Senin, 25 Januari 2021

Arridwanpedia: KH. Idham Chalid, Seorang Guru dengan Filosofi Air


Kelas 7 putra Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki diberi nama Kelas Idham Chalid. Sans, tahu nggak sih, siapa sosok bernama KH. Idham Chalid itu?

Yaps, pada edisi Arridwanpedia kali ini, kami ingin mengangkat profil Dr. KH. Idham Chalid. Untuk diketahui, KH. Idham Chalid (1921-2010), merupakan seorang guru, kiai, politisi dan Ketua Tanfidziyah NU.

Pak Idham tercatat pernah berproses di Madrasah Ar-Rasyidiyyah dan Ponpes Gontor. Latar belakang Pak Idham, sesungguhnya adalah guru (pengajar). Tapi, aktivitasnya di politik, membuatnya masyhur sebagai politisi.

Latar belakang Pak Idham adalah guru.
Beliau menjabat Ketua PBNU pada 1956-1984. Lalu, pada 1952, Pak Idham diangkat sebagai ketua PB Ma’arif--- organisasi sayap NU yang bergerak di bidang pendidikan.

Sepanjang 1952-1955, Pak Idham duduk dalam Majelis Pertimbangan Politik PBNU. Kala itu, beliau sering mendampingi Rais Am K.H. Abdul Wahab Hasbullah berkeliling ke seluruh cabang NU di Nusantara.

Filosofi Air KH. Idham Chalid 

Pak Idham sosok yang mampu berperan ganda dalam satu situasi; guru, kiai, sekaligus politisi. Tentu ini peran yang tidak mudah. Dalam buku Idham Chalid: Guru Politik Orang NU karya Ahmad Muhajir, beliau berkata: politisi yang baik mestilah memahami filosofi air.

Apabila air dimasukkan di dalam gelas, ia akan berbentuk gelas; bila dimasukkan ke dalam ember, ia akan berbentuk ember; bila dibelah dengan benda tajam, ia akan terputus sesaat, lalu cepat kembali ke bentuk aslinya.

Jasanya di dunia pendidikan, mendirikan Universitas Nahdlatul Ulama (Universitas Islam Nusantara) pada 30 November 1950 bersama tokoh NU lain seperti, K.H Subhan Z.E. (Alm.), K.H. Achsien (Alm.), K.H. Habib Utsman Al-Aydarus (Alm.), dll.

Senin, 28 Desember 2020

Ingin Mendaftar Santri Baru Ar-Ridwan Al Maliki, Bisa Lewat Link di Bawah Ini


Untuk bisa mendaftar santri baru di Ar-Ridwan Al Maliki, gak perlu repot datang ke lokasi, cukup klik link di bawah ini. 

Sehubungan kasus Covid 19 yang masih meningkat, dan demi menjaga area pondok pesantren Ar-Ridwan Al Maliki tetap steril, pendaftaran santri baru TA 2021 / 2022 secara offline ditutup sementara waktu.

Namun, pendaftaran jalur online tetap dibuka. Nah agar bisa mendaftarkan putra-putri Anda menjadi santri di Ar-Ridwan Al Maliki, gak perlu repot datang ke lokasi, cukup klik link di bawah ini. 

Link pendaftaran santri baru 

Selamat mencoba. Semoga Allah SWT memudahkan langkah kita untuk bergerak menuju kebaikan. 

Rabu, 16 Desember 2020

Kabar Baik: Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki Bojonegoro Membuka Pendaftaran Santri Baru


Anak memang investasi orang tua. Tapi saat dipondokkan, ia akan langsung jadi keuntungan dunia akhirat bagi orang tuanya. Insya Allah.

Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki Bojonegoro membuka pendaftaran santri baru setingkat SMP sederajat untuk tahun ajaran 2021-2022. Ini tentu jadi kabar baik bagi calon wali santri yang ingin memondokkan anaknya.

Mendaftarkan anak ke ponpes adalah investasi tak ternilai harganya bagi orang tua. Sebab, anak adalah investasi. Jika anak itu memahami ajaran agama Islam, ia tak hanya jadi investasi, tapi langsung jadi keuntungan.

Bagaimana tidak? Anak yang memahami ajaran Kanjeng Nabi Muhammad Saw adalah penolong bagi orang tua dan kakek-nenek buyutnya. Baik penolong saat di dunia, maupun penyelamat kelak di akhirat.

Membekali anak dengan pendidikan yang baik adalah kewajiban bagi setiap orang tua. Baik itu pendidikan umum, terlebih lagi pendidikan agama. Sebab, apa yang kelak ditimpa orang tua, sedikit banyak dipengaruhi oleh keadaan anak-anaknya.

Alhasil, membekali anak dengan pendidikan agama dan pendidikan umum yang baik adalah kewajiban dan tanggung jawab paling inti dan prioritas bagi setiap orang tua.

Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki Bojonegoro adalah lembaga pendidikan yang tepat bagi orang tua untuk memondokkan anak-anaknya. Ada banyak alasan yang memperkuat dan melatar belakanginya.

Sedikit di antaranya adalah: Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki adalah ponpes Tahfidzul Qur'an. Ponpes yang inti pembelajarannya, berorientasi pada penghafal Al-Qur'an. Dengan target lulusan, santri hafal Al-Qur'an 3-15 juz.

Selain Tahfidzul Qur'an, Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki juga mengajarkan Tafaqquh Fiddin (pemahaman Ahlussunah wal Jamaah). Sebab, Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki merupakan ponpes alumni Abuya Sayyid Abbas Al Maliki (ulama Ahlussunah wal Jamaah Makkah).

Sementara untuk pendidikan umum, Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki mengacu pada gaya pendidikan berorientasi kebahagiaan (khas Finlandia) dengan target menguasai dasar Bahasa Inggris dan bahasa Arab, tuntas kurikulum nasional dan pembekalan lifeskill.

Sehingga, secara umum, Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki memiliki visi besar melahirkan generasi Qurani sekaligus memiliki kompetensi pengetahuan umum yang mumpuni.

Pendaftaran santri baru dibuka pada 21 Desember 2020 - 31 Maret 2021 (untuk gelombang 1), dengan waktu tes pada 10 April 2021. Sementara (gelombang 2), dibuka pada 12 April 2021 - 30 Juni 2021, dengan waktu tes pada 02-03 Juni 2021.

Semoga kabar baik ini benar-benar jadi kabar baik bagi Anda semua (calon wali santri). Sebab, Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki Bojonegoro adalah tempat yang tepat untuk menitip-binakan buah hati. 



Sabtu, 12 Desember 2020

Class Meeting dan Buah dari Kesabaran

Class Meeting adalah bukti betapa maha baiknya Allah SWT pada kita. Sebab, sesulit apapun menghadapi ujian, bakal ada momen "Class Meeting" yang hadir dalam kehidupan. 

Raut bahagia tergurat pada wajah para santri dan ustad-ustadzah Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki Bojonegoro pagi ini (12/12/2021), saat melaksanakan kegiatan Class Meeting di lapangan Ponpes. 

Kegiatan Class Meeting ini dilaksanakan untuk mengisi waktu lowong antara selesai Ujian Semester dan menerima Rapor. Sejumlah perlombaan pun, dilaksanakan dengan aman sesuai protokol kesehatan. 

Sejumlah perlombaan seperti lomba sepakbola terong, balap bola di atas rafia, hingga lomba angkut air, cukup membuat para peserta dan panitia sejenak tertawa lepas melupakan kepenatan. 

Yang menarik dari Class Meeting, menang-kalah dan sekecil apapun hadiah yang didapat, tak lagi penting. Sebab, bisa bertemu teman beda kelas dalam momen perlombaan saja, sudah kebahagiaan itu sendiri. 

Itu yang dirasakan para santri Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki. Riuh-rendah tawa mereka tak lagi dipengaruhi menang-kalahnya pertandingan, tapi karena memang ingin tertawa saja. Ya, ingin tertawa saja. Betapa sederhananya wujud bahagia. 

Filosofi di Balik Class Meeting

Hidup digambarkan seperti sekolah. Sebab, hampir tiap hari selalu ada ujian yang dihadapi. Ada ujian kesabaran. Ujian keikhlasan. Hingga ujian yang mungkin tak lagi sanggup diistilahkan dengan perkataan. 

Tapi, entah disadari atau tidak, Allah selalu meletakkan "Class Meeting" dalam kehidupan kita. Ritmenya pun selalu sama. Usri dulu, Yusron kemudian. Al Usri Yusron. Susah dulu, mudah kemudian. Ujian dulu, Class Meeting kemudian. 

Cuma, kadang-kadang sih diselipi remedi biar tambah dewasa dan kian matang dalam menjalani hidup. Hehe 

Class Meeting adalah bukti betapa maha baiknya Allah SWT. Sesulit dan se-susah apapun kita menghadapi ujian, bakal ada momen "Class Meeting" dalam kehidupan. Sabar dulu, ikhlas dulu, Class Meeting kemudian. 

Perjumpaan setelah penantian dan ketercapaian setelah upaya mati-matian, adalah contoh hadirnya Class Meeting dalam kehidupan. Ya, begitulah ritmenya. Sesusah apapun ujian yang dihadapi, menjumpai "Class Meeting" adalah keniscayaan.

Rabu, 25 November 2020

Kalau Ingin Kaya, Jangan Jadi Guru



Oleh: Ahmad Wahyu Rizkiawan 

Menjadi guru bukan profesi yang mengantar kita pada status sosial ekonomi kaya raya. Kalau ada yang kaya raya dari profesi guru, itu sekadar bonus dan takdir belaka. 

Sebab, guru memiliki peran pada Guide (panduan) and Rules (aturan). GUide and RUles, bukan Gold (emas) and Riches (kekayaan). Bukan pada orientasi mendapatkan emas dan kekayaan, tapi lebih pada peran pemandu kehidupan. 

Setiap Hari Guru tiba, entah kenapa, saya selalu ingat dan merenungi pesan Kyai saya: nek ndue niat dadi kyai (guru), ojo arep-arep sugih. Kyai saya dapat pesan itu dari kyainya kyai saya.

Sejak mendengar kalimat itu, sesungguhnya saya tak pernah punya niat menjadi guru. Tapi sayang, saya punya bakat jadi guru sejak lahir. Sebab orang tua saya menitipkan DNA pendidik di dalam tubuh saya.

Seberapa kuat saya menghindari takdir jadi guru, tetap saja ada celah episode hidup yang akan mengantar saya pada kegiatan belajar mengajar --- sesuatu yang kelak amat sangat saya syukuri. 

Suatu hari, saat saya masih duduk di Sekolah Menengah, Ibu pernah berpesan, "Sok mben awakmu tetep bakale dadi guru, Ibuk suueneng nek awakmu dadi guru". Kata Ibu. 

Saya mendengar kata itu sambil lalu. Sebab waktu itu saya belum kepikiran mau jadi apa, apalagi sekadar jadi guru. Bahkan, tak pernah ada niat dalam hati saya untuk sekolah di jurusan keguruan. 

Saya kira waktu itu Ibu sedang bergurau. Tapi ternyata itu doa yang amat mustajab. Buktinya, entah apapun yang saya lakukan, tubuh saya seperti selalu digerakkan pada giat-giat advokasi edukasi.

"Kerjo opo wae, nak iso atine tetep nyambi dadi guru." Itu pesan ibu yang selalu saya ingat hingga saat ini.  

Kalau bukan karena pesan Ibu, mungkin saya tak akan pernah mau jadi guru. Semua ini karena Ibu dan bapak sangat mencintai pendidikan. Episode hidup mereka dihabiskan di dunia pendidikan. Tiap kali kami pindah rumah, di tempat itu pula, selalu ada orang belajar. 

Ada yang belajar ngaji, belajar baca-tulis, belajar main hadrah, atau belajar bikin kue. Rumah kami selalu ramai anak-anak dan tetangga-tetangga yang belajar. Meski rumah kami bukan sebuah sekolahan. 

Ibu dan bapak tak berprofesi menjadi guru secara formal. Beliau hanya mencintai pendidikan, tapi tak berprofesi sebagai guru. Kelak saya tahu jika ibu dan bapak memaknai guru dan pendidik sebagai status ukhrowi. 

Hingga beberapa waktu sebelum wafat, Ibu masih sering bertanya pada saya, adakah anak tetangga yang saat sudah waktunya disekolahkan, tapi belum atau tidak disekolahkan? Jika ada, saya diminta untuk memanggilkan mereka ke rumah. 

Ibu dan bapak memang sangat mencintai pendidikan, meski mereka hanya seorang pedagang. Mereka pedagang yang berjuang di dunia pendidikan. Dan mereka amat bangga akan apa yang mereka perjuangkan. 

Ibu pernah berpesan: jadi guru tidak akan membuatmu kaya raya, tapi dengan jadi guru yang ikhlas, potensi Allah membuka jalan kamu untuk hidup tercukupi dan kaya, bisa terbuka. Ibu tak pernah meminta saya jadi kaya raya dari profesi guru. Beliau hanya meminta saya jadi guru yang ikhlas, urusan ketercukupan rizki, cari jalan yang lain. Begitu pesan beliau. 

Dan sejak saat itu, hati saya mulai luluh. Sebab saya menyadari; orang tua, kakek, hingga buyut-buyut saya, semuanya menempatkan perjuangan hidup mereka sebagai guru dan pendidik, namun di saat yang sama, mereka berdagang. 

Ada yang jadi guru ngaji, guru pencak silat, hingga guru kehidupan di masyarakat. Dan tak ada satu pun dari mereka yang berprofesi guru formal, apalagi guru yang bersertifikat. Maka tak heran jika saya tumbuh dari cipratan DNA mereka. 

Dari beliau-beliau pula, saya mengambil kesimpulan bahwa: setiap manusia adalah guru dan pendidik. Kalaupun tak berprofesi sebagai guru, mereka mendidik dari apa yang dilihat orang lain terhadap diri mereka. Ya, saya tahu, guru dan giat pendidikan bukan sekadar profesi, tapi peran hidup dan status ukhrowi.

Minggu, 22 November 2020

Mauludan Atas Nama Cinta dan Kerinduan

Dzikro Maulidur Rosul yang dihelat di Masjid Sayyid Abbas Al- Maliky, Ponpes Ridwan Romly Al Maliky siang tadi (22/11), membuktikan betapa cinta dan rindu pada Kanjeng Nabi tak bisa dibatasi ruang dan interval waktu. 

Mahalul Qiyam dan tetabuhan yang menderu-deru, mengiringi rasa cinta dan rindu para hadirin pada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Lantunan sholawat bergema di udara, sementara rasa haru terasa membekap di dalam dada. 

Begitulah, tiap kali acara Dzikro Maulidur Rosul, selalu diikuti rasa haru yang unik. Sejenis suasana harap-harap cemas yang hadir akibat perasaan cinta dan rindu pada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. 

Cinta dan rindu, kalau digambarkan, mungkin ilustrasinya seperti ini: saat bangun tengah malam, lalu tak sengaja mendengar suara tarhim subuh yang sayup-sayup berkumandang dari kejauhan. Saat seperti itu, hati bisa cemas begitu saja. Tapi juga bisa lega begitu saja. 

Ya, barangkali, seperti itulah sunyinya suasana rindu dan cinta. Suasana ketika cemas dan lega datang secara bersama-sama. 

Suasana rindu dan cinta benar-benar terasa dalam acara Dzikro Maulidur Rosul yang diadakan Markaz Ridwan Romly Al Maliky siang tadi. Dalam acara tersebut, cinta dan rindu pada Kanjeng Nabi mampu jadi padatan frekuensi energi yang menggetarkan dinding-dinding hati. 

Selain memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw, acara tersebut juga memperingati haul Abuya Sayyid Abbas Al Maliky Al Hasani, sekaligus haul Para Pendiri dan Masyayikh Markaz Ridwan Romly Al Maliky. 

Dalam acara yang mematuhi protokol kesehatan Covid-19 tersebut, selain dihadiri santri, pengurus, dan dewan asatidz, juga hadir sejumlah kiai dan tokoh masyarakat, baik dari dalam Kota  Bojonegoro maupun luar Kota Bojonegoro. 

Dzikro Maulidur Rosul membuktikan betapa cinta dan rindu pada Kanjeng Nabi Muhammad Saw tak akan pernah bisa dibatasi dinding ruang maupun interval waktu. Sebab, ia ada di setiap nafas dan pandangan mata.

Kamis, 19 November 2020

Perpisahan Siswa PPL dan Perjumpaan-perjumpaan yang Lain



Segala yang pernah berjumpa, pasti akan berpisah. Begitu kata pepatah. Tapi, ada perpisahan yang justru jadi awal bermacam perjumpaan. 

Upacara perpisahan (Farewell Party) siswa Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) MA Abu Darrin di Ar-Ridwan Al Maliky dilaksanakan siang ini (19/11). Meski sederhana, upacara tersebut amat memukau. 

Bermacam tampilan seni, ditampilkan para santri Ar-Ridwan sebagai bentuk terimakasih pada para siswa PPL, yang telah berkenan berbagi semangat menuntut ilmu selama dua Minggu ini. 

Penampilan seni Hadrah, Qori', hingga kreasi nadhom Aqidatul Awam ditampilkan oleh para santri, mengiringi prosesi perpisahan. 

Dari pihak Ar-Ridwan, Ustadzah Susanti memberikan sambutannya. Beliau berterimakasih pada para siswa PPL yang telah berkenan membagi ilmu pada para santri di ponpes Ar-Ridwan. Sementara dari pihak MA Abu Darrin, Pak Didik memberikan sambutan dan rasa terimakasih. 

Dalam acara tersebut, ada pula pembagian hadiah dari para siswa PPL untuk para santri. Ini, tentu sebagai ukir kesan agar apa yang telah terlewati bersama, layak dikenang sebagai momen bahagia. 

Selain penyerahan hadiah, dalam acara ini juga terdapat momen penyerahan kenang-kenangan. Pihak Ar-Ridwan diwakili pengasuh ponpes Ar-Ridwan, KH. Tsalis Duha Ridwan. Sementara dari pihak MA Abu Darrin, diwakili Pak Didik. Acara perpisahan ini, ditutup doa oleh pengasuh. 

Peepisahan ini, tentu bukan akhir dari segala niat baik. Tapi awal dari getar hati dan langkah kaki untuk terus berbagi perihal baik. Berbagi perihal yang layak dikenang sebagai kebaikan. 

Sans, barangkali benar jika segala yang pernah berjumpa, pasti akan berpisah. Tapi, ada perpisahan yang justru jadi awal perjumpaan-perjumpaan yang lain. Perjumpaan-perjumpaan atas nama ilmu dan cinta pada Allah SWT.

Rabu, 18 November 2020

Kelebihan dan Keunikan Ponpes Ar-Ridwan Al-Maliky

 

Meski tergolong masih baru, Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky memiliki sejumlah kelebihan dan keunikan. Baik dari segi letak geografis, maupun konsep keseimbangannya.

Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky Bojonegoro berada di tengah-tengah kota. Tapi suasana yang tersaji, seperti di desa. Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky terasa seperti di desa. Tapi hakikatnya, berada di pusat kota. Hmm.. gimana itu ya?

Sans, Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky berlokasi di Jalan Singoranu nomor 4 Kota Bojonegoro. Lokasi tersebut, tepatnya berada di Desa Sukorejo, Kecamatan Kota. Desa Sukorejo berada di dalam Kota Bojonegoro. Desa di dalam kota.

Kondisi ini, tentu sangat menarik. Sebab, berada di dalam kota. Artinya, akses sangat mudah. Sementara lokasi yang terasa mirip di desa, menunjukkan betapa suasana belajar di Ponpes Ar-Ridwan sangat asri dan kondusif.

Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky, sejak awal berdiri, memang fokus pada program unggulan Tahfidzul Qur'an. Namun, Ponpes Ar-Ridwan juga dilengkapi dengan program pendidikan Diniyah Salafiyah dan pendidikan umum.

Secara konsep Diniyah, Ponpes Ar-Ridwan menganut methode pendidikan Abuya Sayyid Abbas Al Maliky, Makkah. Sementara secara konsep pendidikan umum, Ponpes Ar-Ridwan mengacu gaya Finlandia. Yakni pendidikan berbasis kebahagiaan.

Tak heran, banyak santri-santri Ar-Ridwan Al Maliky yang justru berasal dari luar Kota Bojonegoro. Ini karena atmosfer dan ekosistem belajar yang terbangun di Ar-Ridwan Al Maliky sangat menyenangkan dan berorientasi pada kebahagiaan.

Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky dan Konsep Keseimbangan

Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky hadir dengan konsep keseimbangan. Baik seimbang dalam sudut pandang letak geografis, maupun seimbang dalam paradigma konsep identitas.

Secara geografis, dulu ada yang bilang bahwa di dalam Kota Bojonegoro, hanya ada dua Pondok Pesantren. Yakni Ponpes Ar-Rahmat dan Al-Fatimah. Nah, kehadiran Ponpes Ar-Ridwan, tentu menyeimbangkan posisi geografis keduanya.

Jika dilihat dari gmaps, Ponpes Ar-Rahmat berada di sisi barat Kota Bojonegoro. Sementara Ponpes Al-Fatimah berada di sisi timur Kota Bojonegoro. Nah, Ponpes Ar-Ridwan ini, lokasinya berada di tengah-tengah antara dua ponpes tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa secara letak geografis, Ponpes Ar-Ridwan memang berada di tengah-tengah antara Ponpes Ar-Rahmat dan Ponpes Al-Fatimah.

Sementara secara konsep identitas, Ar-Rahmat identik sebagai ponpes laki-laki yang ada di Kota Bojonegoro. Sementara Al-Fatimah identik sebagai ponpes perempuan yang ada di Kota Bojonegoro.

Nah, Ponpes Ar-Ridwan menyeimbangkan secara identitas. Sebab, di Ar-Ridwan, ada santri putra sekaligus santri putri. Meski, tentu saja, letaknya terpisah.

Hal ini menunjukan bahwa secara konsep identitas, Ponpes Ar-Ridwan berada di tengah-tengah dan jadi penyeimbang antara Ponpes Ar-Rahmat dan Al-Fatimah.

Ya, Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky memang unik. Sebab, ia menyeimbangkan dan melengkapi yang sudah-sudah. Baik dalam sisi letak geografis, maupun dalam konsep identitas.

Dalam khasanah psikologi, setiap orang memiliki kecenderungan bergerak menuju keseimbangan psikologis. Atau dalam istilah lain, mata akan cenderung memperhatikan titik tengah daripada yang pinggir.

Artinya, jangan heran jika kelak, Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky akan menjadi Ponpes besar dan sangat maju. Sebab, selain menyeimbangkan, ia juga lebih menarik perhatian.



Minggu, 15 November 2020

Khidmah, Kabar Gembira, dan Rahasia Besar di Baliknya




Berkhidmah adalah episode hidup yang patut disyukuri. Sebab, khidmah hari ini adalah penerang jalan, kelak di kemudian hari. 

Diberi kesempatan berkhidmah adalah anugerah yang amat luar biasa. Apalagi, yang dikhidmahi adalah lembaga yang berurusan dengan agama Allah SWT. Tentu hanya orang-orang terpilih yang bisa melakukannya. 

‌Khidmah berasal dari kata khodim yang menurut bahasa, artinya: melayani atau membantu. Sementara khidmah menurut tradisi pesantren, adalah membantu kiai atau lembaga pendidikan dengan sepenuh hati, disertai kesabaran dan keikhlasan. 

Sebab bisa jadi, ridho Allah pada kita justru dilewatkan dari jalur Khidmah, bukan jalur yang lain. Dengan kita berkhidmah, misalnya, Allah jadi ridho terhadap apa yang kita lakukan selama menghabiskan usia di dunia ini.  

Khidmah memang semata-mata mencari ridho Allah dan kiai. Bukan mencari ridho pemerintah, apalagi mencari ridho orang lain dalam bentuk sertifikat dan pujian. Kalaupun iya, itu sekadar bonus kecil belaka. Bonus besarnya nanti di kemudian hari. 

Khidmah adalah cara orang-orang alim terdahulu dalam menjalani hidup di dunia. Para ulama terdahulu, di usia mudanya, selalu berkhidmah. Banyak sekali nama kiai dan ulama yang berkhidmah di usia muda. 

Bahkan, ada sebuah pepatah: Batas usia kreatif seseorang adalah 40 tahun. Hendaknya sebelum usia itu, seseorang mempergunakan usianya untuk berkhidmah (mengabdi) terlebih dahulu. 

Kanjeng Nabi Muhammad Saw pun begitu. Kanjeng Nabi, dulu berkhidmah pada Ummul Mukminin Siti Khodijah dengan menjadi rekan bisnisnya, sebelum akhirnya diangkat menjadi Rasul di usia 40 tahun. 

Sehingga wajar jika berkhidmah sesungguhnya lebih mulia daripada kerja di Bank atau jadi PNS. Sebab khidmah, dalam konsep lain merupakan investasi --- sesuatu yang saat ini terasa biasa-biasa saja, namun kelak di kemudian hari, memicu rasa syukur yang amat luar biasa. 

Khidmah akan selalu diikuti bisyaroh. Ingat: bisyaroh, secara harfiah, artinya Kabar Gembira. Ini penting untuk diketahui, bahwa bisyaroh bukan semata gaji apalagi insentif. Dalam ungkapan lain, Khidmah yang ikhlas akan selalu diikuti kabar gembira di belakangnya. 

Bisa jadi, kabar gembira itu berupa kenikmatan-kenikmatan pemicu rasa syukur seperti datangnya kemudahan, penjagaan atas kesehatan, munculnya rizki, hingga hadirnya jodoh kelak di kemudian hari. 

Berkhidmah memang tak pernah mudah. Kadang membikin hati risau dan gelisah. Tapi, apa arti risau dan gelisah jika kelak di kemudian hari, Allah SWT telah mempersiapkan kabar gembira untuk kita? 

Berkhidmah adalah episode hidup yang patut disyukuri. Sebab, hanya orang-orang pilihan yang ditakdir bisa berkhidmah. Dan betapa bersyukurnya, jika orang-orang pilihan itu adalah kita.

Sabtu, 14 November 2020

Gelak Haru Hari Guru dan Hari Pahlawan di Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky



Sebuah momen ketika menahan jatuhnya air mata lebih sulit dibanding menahan jatuhnya air hujan. Saat hujan turun, kita bisa berteduh. Tapi saat air mata yang turun, ia pasti akan dlewar-dlewer begitu saja. 

Santri dan pengurus Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky peringati Hari Pahlawan dan Hari Guru Nasional di aula Masjid Sayyid Abbas pada (14/10/2020). Dalam peringatan tersebut, santri memberikan persembahan pada pengasuh dan asatidz sebagai simbol rasa takdhim. 

Dalam acara yang dimulai sejak pukul 08.00 pagi tersebut, bermacam penampilan seni dari perwakilan kelas 7, kelas 8, hingga kelas 9 mampu membetot rasa haru dalam hati para penonton, termasuk pengurus dan para pengajar. 

Guru memang pahlawan. Karena itu, benar adanya jika peringatannya dijadikan satu dengan Hari Pahlawan. Dan wajar jika dalam acara tersebut, keharuan mendominasi suasana. 

Rasa haru tak segera usai, karena pasca acara pentas ditutup, kegiatan pemotongan tumpeng dan ramah tamah justru kian memperkuat keharuan. Sementara lagu Man Ana terus mengalun mendramatisir melankoli suasana. 

Tetes-tetes air mata haru terlihat menggenang di mana-mana. Ada yang mengucur di pipi para santri, tersembunyi di balik baju, hingga tergenang di dalam hati pengasuh dan ustad-ustadzah. 

Dalam momen tersebut, menahan jatuhnya air mata memang lebih sulit dibanding menahan jatuhnya air hujan. Saat hujan tiba, kita bisa berteduh. Tapi saat air mata yang tiba, tak ada peneduh yang mampu memayunginya, kecuali pipi kita masing-masing. 

Hanya mereka yang berhati lembut yang mudah tersentuh hatinya. Dan saat acara peringatan Hari Guru dan Hari Pahlawan ini, semua hadirin hatinya menjadi lembut. Penuh pemakluman dan penuh kasih sayang. 

Peringatan Hari Guru dan Hari Pahlawan di Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki tak hanya menunjukan betapa guru memang seorang pahlawan. Lebih dari itu, semua ini menunjukan bahwa rasa takdhim pada guru dan kasih sayang pada santri adalah inti dari pendidikan.

Selasa, 10 November 2020

Peran Santri di Balik Hari Pahlawan




Kemenangan 10 November adalah bukti betapa besar peran Kiai dan para santri. Sebab karena merekalah, Hari Pahlawan hadir di muka bumi. 

Tak akan pernah ada 10 November tanpa gelombang 22 Oktober. Tak akan pernah ada Hari Pahlawan, tanpa Resolusi Jihad santri dan ulama yang digemakan KH. Hasyim Asy'ari. 

10 November bisa pecah dan bergema karena ada padatan-padatan semangat yang dihimpun para Kiai sejak 22 Oktober. Dan di sinilah, peran Kiai dan santri sangat menentukan kemenangan pada momen 10 November. 

Jauh-jauh hari sebelum meletus perang 10 November di Surabaya, Resolusi Jihad yang digemakan KH Hasyim Asy'ari benar-benar mampu membangkitkan patriotisme para santri, kiai dan akhirnya masyarakat umum. 

Selain Syaikhona Hasyim Asy'ari, sesungguhnya ada dua nama Kiai lain yang amat berperan dalam perang 10 November. Beliau berdua adalah KH. Abdullah Abbas Buntet Cirebon dan KH. As'ad Syamsul Arifin Situbondo. 

Sebenarnya ada banyak daftar nama Kiai yang berperan besar. Namun, Mbah Abbas dan Mbah As'ad adalah sosok konseptor. Beliau yang menghimpun sekaligus menggerakkan spirit dan gelombang heroisme masyarakat dan para santri, dari dua arah mata angin. 

Mbah Abbas dari sisi barat Surabaya dan Mbah As'ad dari sisi timur Surabaya. Dari dua kutub itu, energi para santri bergerak menuju Surabaya, menuju kemenangan yang kelak kita kenang sebagai Hari Pahlawan. 

Selain itu, Mbah Abbas dan Mbah As'ad memang masyhur sebagai sosok digdaya. Mbah Abbas terutama, sangat masyhur memiliki pemahaman ilmu fiqih beserta bermacam kedigdayaan olah fisik dan olah batin. Mbah Abbas adalah sosok Kiai keramat. 

Maka tak heran jika Sekutu, dalam hal ini Inggris, kalang kabut kala melawan para santri dan jihadis di Surabaya. Bahkan, perang 10 November jadi momen pertama Inggris kehilangan jendral besarnya di dalam sebuah peperangan. 

Inggris lupa bahwa yang dihadapi mereka bukan sekadar tentara. Tapi tentara langit. Kiai dan santri adalah sosok-sosok yang mampu menghadirkan pertolongan samawi melalui doa dan sholawat. 

Perang dan kemenangan 10 November adalah bukti betapa doa dan safaat Kanjeng Nabi Muhammad Saw begitu dekat pada permohonan kita. Pada permohonan Kiai dan santri. 

10 November ini, harusnya tak sekadar diperingati sebagai Hari Pahlawan. Tapi juga diperingati sebagai hari betapa besar peran Kiai dan para santri. Sebab karena merekalah kemenangan 10 November hadir di muka bumi. 

Berbanggalah wahai para santri di manapun kamu berada. Sebab para santri ada di tiap sulur-sulur semangat Hari Pahlawan. Kamu ada di tiap nadi semangat hari kemenangan. 

Ya, kamu (yang membaca tulisan ini), adalah pahlawan. Setidaknya bagi orang terdekat dan dirimu sendiri. 


Sabtu, 03 Oktober 2020

Berkirim Doa pada 1000 Hari Wafatnya Abina





Dalam rangka 1000 hari wafatnya Abina H. Muhammad Khusairi Ridwan, pengasuh, pengurus beserta para santri mengadakan khataman Quran beserta tahlil yang dipimpin langsung pengasuh. 

Tahlil dan berkirim doa adalah satu-satunya cara membahagiakan mereka yang telah tiada. Sekaligus satu-satunya cara menyambung cinta dan menuai rindu, meski tak lagi bisa bertemu. 

Abina Khusairi Ridwan merupakan pendiri Markaz Ridwan Romly Al Maliki. Beliau wafat 3 tahun silam. Karena itu, demi agar Khidmah kita pada pendiri, peringatan haul beliau selalu diadakan dan disemarakkan dengan bermacam kegiatan Al-Qur'an.

Abina sosok yang sangat berpengaruh bagi keberadaan Markaz Ridwan Romly Al Maliki. Karena itu, sudah kewajiban para santri, pengurus, dan pengasuh untuk berkirim dia dan meneladani perjuangan Abina. 

Begitu besar kebahagiaan ahli kubur, saat anak keturunan dan handai taulan berkumpul, lalu bersama-sama mengirim doa dan mengingat kebaikan-kebaikannya. 

Mengirim doa pada orang tua yang telah wafat, adalah kewajiban bagi kita semua. Sebab, hanya dengan itu, kita bisa membahagiakan beliau. Toh, tak ada yang diharapkan ahli kubur, selain doa dari kita yang masih hidup. 

Semoga kita semua, keluarga besar Markaz Ridwan Romly Al Maliki, bisa meneladani tauladan baik Abina H. Muhammad Khusairi Ridwan, sekaligus selalu memegang wasiat beliau untuk terus berkhidmah pada kebaikan. 



Minggu, 13 September 2020

Saat Para Santri Dijenguk Kerinduan




Rindu, waktu, dan apa saja yang memicu hadirnya jarak, memang kalau dirasakan tidak enak. Karena itu, pertemuan adalah momen paling menyenangkan, terlepas bagaimanapun kondisinya. 

Hari Ahad jadi waktu yang ditunggu-tunggu para santri Markaz Ridwan Romly Al Maliki. Sebab, di hari itu, anugerah berupa sambangan orang tua biasanya dihadirkan. Meski cara sambangnya tak seperti biasanya, setidaknya sambangan tetap membahagiakan.

Sejak masa pandemi, pengurus Markaz Ridwan Romly Al Maliki mengharuskan para santri untuk patuh pada protokol covid yang ditetapkan pemerintah. Selain pakai masker, jaga jarak menjadi perihal yang harus ditepati. 

Saat wali santri sambang, misalnya, mereka tak boleh bertemu secar dekat dan langsung. Tapi harus melalui hijab berupa papan plastik yang menengahinya. Ini demi tetap menaati aturan protokol covid. 

Memang terasa menyedihkan dan mengharukan. Tapi, bagaimanapun, ini yang terbaik demi agar potensi persebaran virus bisa ditekan. Toh para santri masih tetap bisa menuai rindu pada orang tua, melalui bilik kaca.  

Semoga virus Corona segera dicabut Allah SWT, dan keadaan bisa kembali normal seperti biasa. Sehingga, proses sambangan orang tua bisa kembali seperti sediakala. 

Tapi bagaimanapun, pertemuan adalah momen paling menyenangkan, terlepas bagaimanapun cara dan kondisinya. 


 

Kamis, 03 September 2020

Karomah Abuya Sayyid Muhammad Berjumpa Kanjeng Nabi secara Langsung


Ketinggian maqam (kedudukan) Sayyid Muhammad Al-Maliki (Abuya) sebagai seorang Waliyullah, dikenal masyhur di dunia pesantren dan para penggemar ziarah ulama (Syarkubiyah).

Sayyid Muhammad Al-Maliki mencapai maqam bertemu Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw) secara yaqadhah (terjaga, bukan mimpi), sebagaimana diketahui beberapa santrinya.

Dalam buku Al-Ijaz fi Karomati Ahli Al-Hijaz karya Al Habib Mustofa bin Husain Al-Jufri diterangkan bahwa salah seorang santri beliau mendapat tugas melayani kebutuhan Abuya.  Antara lain sarapan pagi yang biasanya berupa telor goreng mata sapi, roti, keju, dan susu segar.

Di antara kamar pribadi Abuya yang sekaligus berfungsi kantor dan dengan dapur pribadi, hanya dibatasi sebuah lorong kecil. Artinya, setiap orang yang berada di dapur, lantas akan masuk ke kamar Abuya, pasti melintasi lorong kecil tersebut.

Waktu itu, sang santri ingin mengantar sarapan Abuya. Saat di tangan santri  sudah tersedia talam berisi peralatan dan menu sarapan Abuya, dan si santri sudah berada di lorong kecil, tiba-tiba teman seniornya mencegah langkahnya, agar tidak masuk ke kamar Abuya terlebih dahulu, namun diminta untuk ikut mendengar secara seksama.

Dengan penuh penasaran, santri pembawa sarapan tadi ikut memperhatikan ajakan teman seniornya tersebut, ternyata terdengar suara tangis lirih namun cukup jelas dari dalam kamar itu. Ya, Abuya terdengar sedang menangis. 

Karena itulah, mereka berdua tak berani masuk kamar sebelum dipanggil Abuya.  Selang sepuluh menit berikutnya, tiba-tiba Abuya memanggil dengan suara agak parau: “Aulaad, fieen futhuur..?” (Anak-anak, mana sarapannya).

Kemudian masuklah dua santri itu, dengan membawa barang yang menjadi tugasnya masing-masing. Setelah mereka berdua duduk di depan Abuya untuk menata menu sarapan dan keperluan lain, Abuya bertanya:

“Tahukah kalian apa yang baru saja aku alami?”

Sapah seorang santri menjawab: “Tidak tahu, wahai Abuya”.

Abuya pun bergegas berkata: “Wahai anak-anakku, baru saja aku ditemui oleh Rasulullah SAW secara langsung..!”.

Begitulah. Salah satu karomah Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki, adalah sering ditemui Kanjeng Nabi Muhammad secara langsung alias bukan melalui mimpi. 

Karena itu, banyak santri dan muhibin yang bermimpi Rasulullah, ternyata melihat sosok Rasulullah nyaris sama dengan sosok Sayyid Muhammad Al-Maliki.

Inilah bukti nyata adanya I’tina’ Khasshah (perhatian khusus) dari Rasulullah Muhammad SAW pada Abuya yang merupakan cucunya tersebut.

Disarikan dari buku Al-Ijaz fi Karomati Ahli Al-Hijaz. 

Ponpes Ar-Ridwan Al-Maliki Bojonegoro Membawa Semangat Abuya Sayyid Abbas dan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki

Ar-Ridwan Al Maliki Bojonegoro menanamkan spirit dan metode Abuya Sayyid Abbas Alawi Al Maliki dan Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Hasani Al-Maliki dalam mendakwahkan Ahlussunah wal Jamaah di Bojonegoro.

Ponpes Ar-Ridwan Al-Maliki Bojonegoro berpegang pada spirit dan metode Abuya Sayyid Abbas alawi Al maliki dan Abuya Sayyid muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani. Yang mana, beliau berdua merupakan ulama Ahlus Sunnah berpengaruh di Makkah Al mukarromah dan Madinah Al Munawwarah.  

Yayasan Ridwan Romly Al Maliki atau Pondok Pesantren Ar-Ridwan Al maliki Bojonegoro merupakan lembaga pendidikan berbasis pesantren salaf serta sistem moderen yang terdapat di Desa Sukorejo Kecamatan Kota Bojonegoro. 

Pesantren Ar-Ridwan Al Maliki menerapkan kurikulum pendidikan salaf dengan progam unggulan Tahfidzul Qur'an, Diniyah juga fokus pada pendidikan umum dengan SMP plus Ar Ridwan yang mempunyai motto Berakhlaqul Karimah Cerdas dan Qurani dengan manhaj Ahlusunnah wal Jamaah.

Sejak didirikan oleh H. Muhammad Khusairi Ridwan rahimahullah pada 2016, Pondok Pesantren Ar-Ridwan Al Maliki Bojonegoro berpegang dan membawa spirit Abuya Sayyid Abbas alawi Al Maliki dan Abuya Sayyid Muhammad  Al Maliki dalam dakwah yang wasathon, yakni metode Ahlussunah wal Jamaah.  

Pengasuh Markaz Ridwan Romly Al Maliki, KH. Tsalis Duha Ridwan, yang merupakan putra dari H. Muhammad Khusairi Ridwan, merupakan alumni Makkah, tepatnya di Markaz Sayyid Alawy Al Maliki. Ma'had (Ponpes) yang didirikan Abuya As Sayyid Abbas alawi Al Maliki, saudara kandung Sayyid Muhammad Alawy Al maliki yang masyhur di Nusantara dengan sebutan Sayyid Maliki Makkah Al mukarromah. 

Selama sepuluh tahun lebih (dari 2004 hingga 2015), KH. Tsalis Dhuha Ridwan menimba ilmu dan berkhidmah "ngalap berkah"  di Markaz Sayyid Alawi Al maliky Makkah Al mukarromah , dibimbing langsung oleh Abuya Sayyid Abbas --- adik kandung Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani. 

Kini, setelah boyong ke rumah, KH. Tsalis Dhuha Ridwan mengemban amanah abah beliau, H. Muhammad Khusairi Ridwan sekaligus amanah guru beliau, Abuya Sayyid Abbas Al-Maliky dan Abuya Sayyid Muhammad Al Maliky untuk berdakwah. 

Di Markaz Ridwan Romly Al Maliki inilah, saat ini, KH. Tsalis Duha Ridwan melanjutkan estafet thoriqoh (metode) dakwah Abuya Sayyid Abbas dalam membimbing para santri menjadi huffadz Al Qur'an dengan pegangan Ahlussunah. 

Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky Bojonegoro membawa sekaligus menanamkan spirit dan metode Abuya Sayyid Abbas alawi Al Maliky dan Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Hasani Al-Maliki dalam mendakwahkan Ahlussunah wal Jamaah di Bojonegoro.


Selasa, 18 Agustus 2020

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan



Meski terkesan kompetitif, lomba agustusan tak ada unsur persaingan berlebih. Hanya euforia keceriaan dalam mensyukuri nikmat kemerdekaan. 

Bagi kita yang tak terlibat secara langsung dalam perang kemerdekaan, mensyukuri nikmat merdeka adalah sekecil-kecilnya perjuangan. Dan karena itu, nikmat merdeka harus disyukuri. 

Itu pula yang dilakukan para santri, pengurus dan pengasuh Markaz Ridwan Romly Al Maliki sejak malam 17 Agustus hingga sehari seusainya. Kami semua mensyukuri nikmat merdeka pemberian Allah SWT tersebut. 

Pada malam tujuhbelasan, semua penghuni pondok berdzikir dan berdoa agar masyarakat dijauhkan dari bala keburukan, dan kehidupan bisa segera normal seperti sedia kala. 

Sementara keesokan harinya, para santri meramaikan suasana kemerdekaan dengan cara menghelat bermacam lomba. Mulai lomba balap karung hingga makan kerupuk. 

Perlombaan tersebut, meski terkesan kompetitif, sesungguhnya tak ada unsur persaingan berlebih. Tapi hanya euforia keceriaan dalam mensyukuri nikmat kemerdekaan. 

Rabu, 12 Agustus 2020

Semangat Sansaqa dan Tempat Kami Mencintai Al-Qur'an

 


Dengan semangat Sansaqa (Santri Ar-Ridwan Sahabat Al Qur'an), para santri  kembali ke pondok demi menggembleng diri mencintai Al Qur'an. 

Sebagai pondok pesantren dengan program unggulan Tahfidzul Qur'an, berdekatan dan berproses dengan Al Qur'an tentu hal yang rutin. Setiap hari, para santri Markaz Ridwan Romly Al Maliki nglalar hafalan. 

Sejak kegiatan belajar mengajar dimulai kembali pada pekan pertama Agustus 2020 lalu, para santri Ar-Ridwan langsung melakukan drilling wirid dan baca Qur'an. Sebab, libur panjang sangat berpengaruh pada kedekatan para santri terhadap giat nglalar hapalan. 

Menjadi penghapal Al Qur'an (hafids) adalah cita-cita yang amat mulia. Tentu bukan sekadar cita-cita urusan dunia, tapi cita-cita berorientasi bekal akhirat. Tak sembarang orang bisa ditakdir menyandangnya. 

Mereka yang menyimpan Al-Qur'an di dalam hati (baik sekadar suka membaca apalagi menghafalkannya), niscaya neraka tak berani mendekatinya. Sebuah bukti betapa hormatnya api neraka pada Al-Quran. 

Karena itu, mereka yang membaca, apalagi menghafal Al-Qur'an, sudah barang tentu menjadi sosok yang amat spesial. Sosok yang soleh secara ritual sekaligus soleh secara sosial. 

Di Markaz Ridwan Romly Al Maliki, para santri belajar Al-Qur'an. Belajar mencintainya. Belajar membacanya dan belajar menghafalkannya. Membaca dan menghafal Al-Qur'an menjadi rutinitas harian di pondok. 

Dengan semangat Sansaqa, para santri terus berupaya mencintai dan mempelajari Al-Qur'an. 


Para Santri Tak Lupa Berolahraga


Santri Ar-Ridwan taat aturan protokol covid 19, rutin berolahraga dan, tentu saja, terus belajar. 

Kegiatan belajar mengajar secara luring yang dilaksanakan di pondok, sudah mulai awal pekan Agustus 2020 ini. Para santri, selain belajar juga punya kewajiban untuk menjaga kesehatan. 

Setiap usai pelajaran kelas, sekitar pukul 10 jelang siang, para santri melakukan peregangan dan pemanasan di lapangan pondok. Tentu, dengan tetap mematuhi protokol covid 19 (pakai masker). 

Menjaga kebugaran, dilakukan para santri Ar-Ridwan setiap hari pasca belajar di kelas. Para santri pergi ke lapangan untuk berolahraga dan berjemur. 




Sabtu, 01 Agustus 2020

Saat Keluarga Besar Markaz Ar-Ridwan Nyate Bareng dan Filosofi di Baliknya




Kegiatan nyate bareng bukan sekadar giat memasak dan maem bareng. Di balik itu semua, ada pelajaran filosofis tentang pengorbanan dan keikhlasan. Berikut ulasan mendalamnya. 

Memperingati Idul Adha 1441, hari ini (1/8), Keluarga besar Markaz Ridwan Romly Al Maliki membagikan daging pada masyarakat sekitar lingkungan pesantren. Tak hanya itu, kami juga membakar sate atau nyate bareng di Markaz.

Kegiatan yang dimulai sejak pagi hari hingga adzan dhuhur sayup-sayup berkumandang tersebut, cukup menyenangkan. Sebab, hampir semua anggota keluarga Markaz, bisa hadir.

Baik dari keluarga ndalem, para pengurus, para pengajar, dan para alumni. Tentu saja, ini momen amat membahagiakan. Mengingat, sudah beberapa bulan ini, kami semua dirundung sedih akibat tak bisa berjumpa.


Kegiatan nyate bareng, menjadi sejenis tradisi positif yang ada di Markaz Ridwan Romly Al Maliki. Setidaknya, hampir tiap tahun sekali, kami semua rutin berkumpul untuk masak bersama dan bersilaturahmi.

Yang menyenangkan dari tradisi nyate bareng adalah kebersamaannya; etet-etet daging bersama, menyiapkan perkakas bersama, dan menikmati rasa lapar bersama. Urusan rasa masakan, kadang nomor 15. Sebab masakan terlezat adalah rasa lapar.

Filosofi di Balik Nyate Bareng

Nyate atau mbakar sate bersama, sesungguhnya punya makna filosofis yang amat mendalam. Mau dipandang dari sudut kegiatan, atau objek sate itu sendiri, semua tak lepas dari unsur kedalaman filosofi.

Kalau mau ngoceki secara detail dan mendalam, sesungguhnya ada tiga unsur utama pembentuk kegiatan nyate bareng. Pertama: kebersamaan, kedua: proses masak, dan ketiga: sate itu sendiri.

Kebersamaan
Nyate bareng tentu dilakukan bersama-sama. Tak mungkin hanya berdua, apalagi sendirian. Kebersamaan inilah yang menjadi simpul utama kegiatan nyate bareng. Tanpa kebersamaan, nyate bareng hanya sebuah ilusi tanpa benar-benar pernah terjadi.

Kegiatan nyate yang dilakukan bersama-sama, juga melampaui kebutuhan personal. Ia hadir sebagai kebutuhan komunal. Sebagai bukti bahwa senyaman apapun hidup sendiri, lebih tenang jika ada yang menemani. Sebab manusia adalah makhluk sosial.

Proses Masak
Yang tak bisa dipisah dari kegiatan nyate bareng adalah proses masak bersama. Ini penting untuk diketahui. Sebab, saat kita beli sate di penjual sate, meski antrenya bareng-bareng. Namanya bukan nyate bareng. Tapi antre bareng.

Nyate bareng tak hanya ritual makan bersama-sama. Tapi juga masak bersama. Dari proses masak inilah, kita menemui rasa lelah dan rasa lapar bebarengan. Lalu, rasa lelah dan lapar inilah, inti paling utama dalam kegiatan masak bareng.

Tanpa hadirnya rasa lelah dan rasa lapar, seenak apapun masakan, tak akan terasa nikmat. Sebab, secara psikologis, kenikmatan hadir atas respon lelah dan rasa lapar. Ia hadir sebagai wujud kelegaan. Wujud hasil perjuangan.

Filosofi Sate 
Disadari atau tidak, sate adalah benda yang mengajarkan kita hakikat keikhlasan. Ia dinanti-nanti, diperbincangkan, dimakan, lalu dijadikan kotoran untuk kemudian dilupakan begitu saja. Meski ia dilupakan, tapi toh sate tak pernah marah dan protes.

Sate mengorbankan dirinya untuk menjadi materi penting dalam konsep metabolisme tubuh manusia. Ia mengenyangkan perut, lalu menyulap dirinya menjadi kotoran, agar tubuh si pemakan sate tetap sehat.

Coba bayangkan, andai sate yang kita makan protes dan tak mau keluar dari tubuh, tentu sistem metabolisme kita terganggu. Tapi sate baik hati. Ia mau keluar dari dalam tubuh, sebagai kotoran. Demi agar kita tetap sehat.

Begitulah, kegiatan nyate bareng yang dilaksanakan keluarga besar Markaz Ridwan Romly Al Maliki, bukan hanya kegiatan masak dan makan-makan belaka, tapi ada pelajaran penting tentang pengorbanan dan keikhlasan di dalamnya.


Menyambut Bahagia Idul Adha 1441



Idul Adha 1441 yang jatuh pada 31 Juli 2020 ini, para pengurus Markaz Ridwan Romly Al Maliki beserta keluarga ndalem, melaksanakan sholat Ied di Masjid Sayyid Abbas Al Maliki.

Khotib sekaligus imam, KH. Tsalis Duha Ridwan, dalam khotbahnya, menyampaikan bahwa tahun ini, kita harus lebih mendekatkan diri pada Allah dan bersabar. Sebab, wabah  memang masih menjadi masalah dunia hingga saat ini.

Di hari kurban ini, kita semua tak hanya memperingatinya. Tapi juga merenungi, betapa berartinya makna ikhlas di tengah kehidupan sosial. Bahwa berkurban, tak harus menunggu idul Adha. Baik kurban skala kecil maupun besar.

Berkurban bisa dengan berbagai macam cara. Dilakukan di berbagai tempat. Dan di waktu apa saja. Asal, semua itu berlandaskan rasa ikhlas.