Tampilkan postingan dengan label Ngaji Pasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngaji Pasan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2020

Surga Terlalu Luas Untuk Dikaplingi




Saking luasnya surga --- yang juga luasnya rahmat dan pengampunan Allah SWT --- tak akan bisa sebuah kaum mengkaplingi surga untuk kaumnya sendiri. 

Pertemuan ke duabelas sekaligus penutupan Ngaji Pasan kitab Mala Ainun Roat (19/5), membahas bab ار ض الجنة وترابها وحصباؤها (tanah pasir dan kerikil di surga).

Kiai Tsalis, dalam penjelasan kitabnya, mengatakan jika surga beserta perihal yang ada di dalamnya, dibangun dengan sesuatu yang amat mahal. Tanah, pasir dan kerikilnya pun dari sesuatu yang mahal --- dengan ukuran dunia.

Bangunan di surga, sesuai redaksi kitab Mala Ainun Roat, dibangun dari emas, bagian lain dibangun dari perak. Bahkan kerikil, pasir dan lapisan tembok dari minyak misk. Semua itu sesuatu yang mahal di dunia, tapi remeh di surga.

Itu menunjukan betapa surga, lebih menarik dan lebih penting dibanding kemewahan apapun di dunia. Dan itu alasan kenapa saat hidup di dunia saat ini, urusan dunia amat menggoda. Sebab mereka yang kelak mendapat surga, adalah mereka yang terseleksi.

Saat mbalah kitab, Kiai Tsalis bercerita, kelak, pada momen tertentu, para ahli surga berkumpul di kolam telaga yang amat luas. Yang mana, seluruh ahli surga dari mereka yang hadir awal hingga akhir, bisa bertemu. Di telaga itu, ahli surga yang cuci muka atau mandi, bisa tambah indah dan ganteng.

Hadirnya seluruh ahli surga --- dari yang masuk awal hingga masuk akhir --- di telaga tersebut, menunjukan betapa surga amat luas. Sehingga saat seseorang atau sebuah kaum mengkapling surga, justru tak mengakui luasnya rahmat Allah SWT.

"Surga itu terlalu luas, jadi tak ada yang bisa ngapling," ucap Kiai Tsalis.

Kiai bercerita, ada seorang wali yang pernah melintasi sebuah pantai. Di pantai itu, sang wali melihat ada segerombolan orang mabuk-mabukan dan kumpul lelaki-perempuan. Bukannya marah dan berkata buruk, wali itu justru berdoa:

"Ya Allah, bahagiakanlah orang-orang itu di akhirat, seperti engkau membahagiakan mereka di dunia,"

Tentu saja itu doa yang amat bijaksana dari seorang wali. Hanya mereka yang bermaqam makrifatullah yang punya pemikiran seperti itu. Beliau masih mendoakan mereka yang berbuat dosa, karena tahu rahmat Allah amat luas. Tak seperti kita yang sering melaknat orang yang, sementara sedang dalam keadaan buruk.

Luasnya surga dan luasnya rahmat Allah, jelas Kiai Tsalis, menunjukan betapa bermacam kemungkinan masih bisa terjadi. Mereka yang saat ini berbuat dosa, kelak bisa dapat hidayah dan ampunan dari Allah.

Karena itu, melaknat orang yang saat ini masih berbuat jahat dan mengkaplingi surga bukan sifat seorang mukmin.

Karena malam ini malam penutupan Ngaji Pasan kitab Mala Ainun Roat, Kiai Tsalis sedikit bercerita tentang kewalian penulis kitab, Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki Al Hasani yang juga guru beliau.

Menurut Kiai Tsalis, Abuya Sayyid Muhammad merupakan seorang wali. Kewalian itu justru diakui oleh ulama-ulama lain, bahkan para murid Abuya sendiri tidak tahu. Entah karena dekat, atau karena saking seringnya bertemu. Berbagai macam kisah kewalian Abuya sangat banyak diceritakan.

Tak hanya Abuya Sayyid Muhammad, Abuya Sayyid Abbas, adik dari Abuya Sayyid Muhammad yang merupakan guru Kiai Tsalis juga seorang wali.

Kewalian Abuya Sayyid Abbas, kata Kiai Tsalis, terlihat ketika beliau menerangkan sebuah tafsir. Selalu ada ilmu baru yang diterangkan. Bahkan kadang, Abuya sendiri tak menyadari itu. Hingga Abuya sering berpesan pada muridnya untuk selalu mencatat.

"Abuya sering berpesan agar kami tak lupa mencatat. Sebab apa yang beliau jelaskan, kadang diluar apa yang beliau sadari. Tafsir, misalnya, selalu ada tafsir baru yang belum kami (para muridnya) ketahui sebelumnya." Cerita Kiai Tsalis.

Kiai Tsalis juga selalu ingat pesan Abuya, bahwa tidak perlu muluk-muluk soal ilmu. Pelajari yang ada. Yang paling penting dari itu semua, adalah bisa menjaga akhlak dan bisa srawung dengan masyarakat.

Selasa, 19 Mei 2020

Surga Tak Pernah Dilockdown




Jika di neraka pintu selalu ditutup layaknya lockdown, di surga pintu selalu dibuka dan tak pernah dilockdown.

Saat ini, di masa-masa pandemi, kita mungkin bosan dengan suasana lockdown, karantina hingga pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Sesungguhnya, itu menunjukan segala yang ditutup dan dibatasi memang tak enak.

Dalam Ngaji Pasan Kitab Mala Ainun Roat pertemuan ke sebelas (18/5), Kiai Tsalis menjelaskan bahwa kelak, ruang-ruang kita di surga, terbuka. Terutama bagi para ahli surga yang se-level, bisa sambang kapanpun.

Tapi, karena level atau derajat surga bertingkat-tingkat --- sesuai amal di dunia dan rahmat Allah SWT --- ahli surga yang berada di level bawah tak bisa melihat suasana ahli surga di level atasnya. Tapi, dia tetap bisa sambang ke ruangan ahli surga lain, yang selevel dengan derajat surganya.

Selain kunjungan sesama ahli surga, juga sering disambang dan dikunjungi para malaikat Allah. Di surga, pintu ruangan selalu terbuka dan anti lockdown. Beda dengan neraka, yang selalu ditutup dan dilockdown.

"Kalau sudah seperti ini, apa yang diharap dari dunia," ucap Kiai Tsalis.





Para Wildan, Mereka yang Wafat Sebelum Baligh






Serupa halnya di dunia kelak di surga terdapat seorang pelayan atau khadim. Khadim di surga adalah para Wildan. 

Siapa yang tak bersedih ketika anaknya yang masih kecil, wafat dan diambil Allah SWT untuk pulang ke rumah abadinya. Tapi, berkat rahmat dan keadilan Allah, kesedihan orang tua yang diambil anaknya itu, terbayar kelak di surga.

Sesungguhnya, Allah telah menyiapkan banyak hal di surga. Itu dijelaskan dalam Ngaji Pasan kitab Mala Ainun Roat pertemuan ke sepuluh.

Kesedihan para orang tua yang ditinggal wafat anaknya yang amat lucu itu, kelak akan diganti dan dibayar lunas oleh Allah. Betapa Allah maha adil dan maha memberi kelegaan hati.

Anak-anak yang wafat sebelum baligh, kelak bakal menjadi Wildan di surga.
Para Wildan adalah mereka yang kala hidup di surga, wafat sebelum baligh. Sehingga belum memiliki dosa. Para Wildan selain hebat, indah dan tampan, juga sangat menyenangkan saat dilihat.

Para ahli surga sangat senang saat berjumpa para Wildan. Mereka membantu dan menemani para ahli surga. Ahli surga yang berjumpa Wildan, serupa mereka berjumpa kawan lama yang telah lama tak bertemu.

"Ahli surga sangat senang melihat para Wildan, sebagaimana bertemu sahabat karib yang lama tidak bertemu," ucap Kiai Tsalis.

Jumat, 15 Mei 2020

Cinta Kanjeng Nabi dan Sifat-sifat Pintu Surga




Semakin tinggi derajat surga, semakin besar ukuran pintunya. Bahkan, ada pintu khusus. 

Ngaji Pasan kitab Mala Ainun Roat pertemuan ke sembilan (13/5), Kiai Tsalis membahas bab baru, yakni bab صفة أبواب الجنة (sifat-sifat pintu surga).

Sebelum mbalah lebih dalam, Kiai bercerita betapa beruntung dan mulianya menjadi umat Nabi Muhammad. Sebab, umat Muhammad lah kelak yang masuk surga pertamakali.

Bahkan, nabi-nabi terdahulu, sangat kepingin jadi umat Kanjeng Nabi Muhammad. Karena itu, kita yang sudah jadi umatnya Kanjeng Nabi, harus banyak bersyukur. Tentu dengan memperbanyak shalawat.

"Nabi-nabi terdahulu itu pengen banget jadi umatnya Nabi Muhammad. Lha kita ini nggak minta, udah jadi umatnya Nabi Muhammad. Makanya kita harus bersyukur dengan banyak-banyak ber-sholawat." Ucap Kiai Tsalis.

Seperti yang tertera dalam kitab, Kiai Tsalis mengatakan jika pintu surga umat nabi Muhammad itu, luasnya seluas jarak yang dilewati kuda (balap) selama 3 hari. Sejumlah ulama mengatakan 3 tahun.

Tentu saja sangat luas sekali. Tapi, meski benar-benar luas, para ahli surga yang masuk, seperti diterangkan kitab, sangat berdesak-desakan. Berdesakan hingga serasa bahunya hilang. Hal ini, kata Kiai Tsalis, disebab karena rahmat Allah lebih besar dibanding azabnya.

"Karena itu kita jangan pernah sombong. Jangan sampai mengkafir-kafirkan orang lain." Tegas Kiai Tsalis.

Kanjeng Nabi, kata Kiai Tsalis, sangat cinta dan sayang pada umatnya. Umatnya selalu beliau sebut. Bahkan hingga akhir hayatnya pun, umatnya yang dia ingat-ingat. Sudah sepatutnya kita membahagiakan Kanjeng Nabi, meski tentu saja tak akan sebanding.

"Cinta yang bagaimana yang harus kita tumbuhkan pada Rosulullah?" imbuh Kiai.

Setidak-tidaknya, kita harus mengingat Kanjeng Nabi. Bersholawat terus kepada beliau. Sebab, beliau sangat mencintai dan mengkhawatirkan kita. Sudah sepatutnya kita mencintai Kanjeng Nabi dengan sesering mungkin bersholawat.



Rabu, 06 Mei 2020

Kualitas Berjuang dan Perbedaan Derajat Manusia



Derajat seorang mukmin di surga, ditentukan seberapa besar perjuangan mereka saat hidup di dunia. 

Orang mukmin yang tidak ngapa-ngapain, punya derajat berbeda dibanding mukmin yang masih mau berjuang (dengan harta atau pikiran) di jalan Allah. Perbedaan derajat itu, berbanding lurus dengan apa yang akan dialami kelak, di akhirat.

Setidaknya, mereka yang sekadar syahadat dan punya iman saja, beda dengan mereka yang mau berjuang semasa hidup di dunia. Mereka yang sekadar punya iman, memang sudah beruntung. Tapi masih kalah beruntung dibanding mereka yang mau berjuang di jalan Allah.

Dalam ngaji pasan pertemuan ketujuh semalam (6/5), Kiai Tsalis masih melanjutkan pembahasan tentang bab Darojatan Wamarotibun (درجات ومراتب) --- derajat dan kelas-kelas kenikmatan di surga kelak.

Dalam kitab Mala Ainun Roat dijelaskan, nanti di surga, mata manusia akan disilaukan oleh cahaya. Sependar cahaya yang menjadi pembatas antara kelas-kelas dan derajat di surga.

Ahli surga yang cuma berada di kelas ekonomi, misalnya, tak akan pernah --- meski sekadar --- bisa melihat dan memandang kenikmatan surga di kelas bisnis atau VIP yang berada di atasnya. Di mana kelas tertinggi adalah surga firdaus.

Kalaupun mencoba melihat, mata akan silau dan dipastikan tak akan bisa. Itu agar derajat yang berada di bawah, tak bisa melihat di atasnya. Sementara yang berada di atas, bisa dengan mudah melihat di bawah.

Saat mbalah kitab, Kiai Tsalis menceritakan, ada 100 tingkatan kelas di surga. Di mana, jarak masing-masing tingkat seukuran jarak langit dan bumi. Praktis, mereka yang berada di kelas bawah tak akan bisa melihat ke atas. Mungkin seperti saat kita melihat matahari: ulap.

Tapi sebaliknya, mereka yang berada di kelas atas, bisa dengan mudah memandang atau sekadar melihat-lihat kelas-kelas surga yang berada di bawahnya.  Itulah ganjaran mereka yang berjuang semasa hidup di dunia.

Dijelaskan pula bahwa ada derajat-derajat khusus yang tak sembarang orang bisa mendapatkannya. Yakni seorang pemimpin yang adil, orang yang suka bersilaturahmi dan bersabar saat membina keluarga.

Dalam kitab Mala Ainun Roat juga dijelaskan bahwa Rasulullah Muhammad Saw memberitahu jalan atau cara bagaimana agar sampai ke derajat yang tinggi.

Ada sebanyak tiga cara. Yakni: menyempurnakan wudhu di saat sulit (maksudnya waktu ngantuk atau cuaca sedang dingin-dinginnya), sering berjalan menuju masjid, dan sering menunggu datangnya waktu sholat tiba. 






Surga Tidak Untuk Orang yang Pelit




Surga hanya untuk orang dermawan yang punya akhlak baik. Sebaliknya, surga tidak untuk orang yang pelit. 

Pada ngaji pasan Kitab Mala Ainun Roat pertemuan keenam semalam (5/5), sebelum melanjutkan ke bab Darojatan Wamarotibun (درجات ومراتب)---- , Kiai Tsalis masih membahas lanjutan bab di pertemuan sebelumnya.

Di dalam pembahasan bab sebelumnya, setelah meminta Jibril melihat surga dan meminta komentar tentangnya, Allah juga meminta Jibril untuk melihat dan menyatakan komentar tentang neraka.

Saat ditanya, Jibril pun berkata: tak seorangpun yang telah mendengar dan melihat (neraka), kecuali bakal tak ingin memasukinya.

Allah lalu mengelilingi neraka dengan perkara-perkara yang menyenangkan. Perkara penuh syahwat yang menggoda. Dan kembali meminta Jibril untuk melihat dan berkomentar.

Setelah melihat lagi kondisi neraka, Jibril kembali dan berkata: Ya Allah, demi kemuliaanmu. Aku takut tak ada manusia yang tersisa, kecuali semua masuk neraka.

Begitulah. Neraka, meski hakikatnya amat menyengsarakan, tapi di kanan kirinya dipenuhi syahwat yang melenakan lagi menyenangkan. Sebaliknya, surga yang hakikatnya sangat nikmat, kanan dan kirinya dipenuhi perkara yang tidak enak.

** **

Kiai Tsalis melanjutkan bab berikutnya. Yakni Darojatan Wamarotibun (درجات ومراتب)---- derajat dan kelas-kelas di surga. Kiai menjelaskan, semua orang (islam) masuk surga karena rahmat Allah. Tapi derajat dan tingkatannya tergantung amal.

Kalau masuk surga, semua orang Islam akan masuk. ( Ini sesuai hadis من قال لا إله إلا الله داخل لجنة.) Tapi derajat kenikmatan hanya bisa didapat orang-orang mukmin yang punya banyak amal. Orang-orang pilihan. Orang-orang yang beruntung.

Kiai Tsalis mengatakan, orang beruntung adalah seorang mukmin. Dan  orang mukmin adalah orang yang Allah ridho pada perbuatan orang tersebut, sementara orang tersebut juga ridho pada kehendak Allah.

Karena itu, kata Kiai Tsalis, dalam maqam penghambaan, maqam ridho adalah maqam tertinggi. Urutanya; Islam, mukmin, Ihsan dan ridho. Orang-orang yang berada dalam maqam ridho, tak ingin mendapatkan apa-apa kecuali ridho dari Allah SWT.

Dalam kitab Mala Ainun Roat dijelaskan, Allah meminta surga berbicara. Surga pun mengatakan, "sungguh, hanya orang-orang yang beruntung (yang bisa merasakan surga).

Allah pun menjawab: "Tak akan bersanding dengan kemuliaanku (surga), orang-orang yang pelit." Maksudnya, orang pelit tak akan berada di surga. "Surga hanya untuk orang yang dermawan dan berakhlak."

Ya, surga hanya untuk orang dermawan yang berakhlak baik. Sebaliknya, surga tidak diperuntukkan orang yang pelit.






Selasa, 05 Mei 2020

Surga Dikelilingi Perkara yang Tidak Disukai Manusia



Surga dikelilingi perkara yang tidak menyenangkan. Tapi, saat kelak diberi kesempatan menikmati surga, manusia akan lupa pada sengsaranya hidup di dunia. 

Ngaji pasan pertemuan kelima semalam (4/5), pembahasan masih pada bab Naimul Jannah --- kenikmatan surga. Sebuah kenikmatan yang membuat orang lupa pernah hidup susah di dunia.

Saat dimasukkan pada kenikmatan surga, hati manusia teramat gembira dan dipenuhi suka cita. Hingga bermacam kesedihan dan kesusahan pun hilang karena terlupakan.

Kiai Tsalis mencontohkan, kesusahan akibat Covid-19 yang sedang melanda seluruh umat manusia misalnya, memang sangat menyusahkan karena punya banyak dampak buruk bagi kehidupan.

Tapi, kesusahan itu kelak akan terlupakan begitu saja bagi orang-orang yang terpilih. Orang seperti apa yang terpilih? Orang yang sabar dengan berbuat baik. Berbuat baik pada manusia maupun berbuat baik (ibadah) pada Allah.

Dan itu bukan perkara mudah. Melainkan perkara yang amat sulit. Baik secara horizontal (antar sesama) maupun vertikal (kepada Allah) amat sulit bagi yang tidak mencoba. Karena itu harus berani mencoba.

Abuya Sayyid Muhammad pernah berkata, surga itu milik Allah yang sangat mahal. Tidak gratis. Karena itu harus diusahakan. Perjalanan menuju surga, diibaratkan seperti berjalan pada malam hari menuju milik Allah yang amat mahal, yakni surga.

Dan orang yang berusaha sekaligus punya kemauan kuat sajalah, yang pasti akan sampai pada tempat yang dituju tersebut.

Orang yang menuju surganya Allah, tidak mudah tertipu syahwat yang dikelilingi api neraka. Sebab, surga dikelilingi sesuatu yang tidak disukai manusia.

Ibadah, amal soleh, sholat, puasa, berbuat baik pada sesama, bukan sesuatu yang disukai oleh manusia. Karena itu, surga diperuntukkan bagi seorang yang dermawan dan berakhlak baik.

Kiai Tsalis menceritakan sebuah riwayat:

Ketika Allah menciptakan surga, Allah meminta Jibril melihatnya. Sesaat setelah melihat itu, Jibril datang dan berkata: Ya Allah, tidak seorangpun manusia yang mendengar kenikmatan-kenikmatan surga, kecuali ingin memasukinya.

Lalu Allah mengelilingi surga dengan perkara-perkara yang tidak disukai manusia, dan meminta Jibril untuk kembali melihatnya, Sesaat setelah melihat itu, Jibril datang dan berkata: Ya Allah, saya takut tak seorangpun yang ingin masuk ke surga.

Begitulah, surga dikelilingi perkara yang tidak disukai manusia. Misalnya, zakat, sholat, puasa, itu perkara yang sangat sulit. Tapi bagaimanapun, itulah perjalanan menuju surga.

"Karena itu, kita harus bersyukur ketika sejak kecil sudah diajarkan beribadah dan berbuat baik. Namun, kita juga tidak boleh sombong." Pungkas Kiai Tsalis.




Minggu, 03 Mei 2020

Sebuah Nikmat yang Tak Pernah Dipandang Mata



Kenikmatan yang bahkan tak sempat terbersit di dalam hati. 

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT akan  memberi hadiah pada orang yang sholih dan sholihah dengan kejutan luar biasa. Sebuah kejutan yang, bahkan indera tak mampu mendefinisikannya.

Kejutan atau nikmat surgawi itu, disebut sebagai: مالا عين رأت (mata yang tak pernah memandang), ولا أذن سمعت (telinga yang tak pernah mendengar), dan ولا خطر على قلب بشر (hati yang tak pernah terbersit).

Ya, seperti tertera dalam judul tulisan ini, Mala Ainun Roat berarti mata yang tak pernah atau tak sanggup memandang, karena begitu indahnya.

Pada ngaji pasan Mala Ainun Roat pertemuan keempat semalam (2/5), Kiai Tsalis mbalah bab Naimul Jannah --- utawi pira-pira kenikmatan suarga.

Nikmat dalam surga, kata Kiai Tsalis, tak bisa disamakan dengan nikmat di dunia. Bahkan, tak bisa digambarkan dengan angan-angan.

Sebuah nikmat yang mungkin tak bisa disandingkan dengan nikmatnya saat kita sedang jatuh cinta, misalnya. Atau saat sedang lapar dan kemudian menemukan maeman, misalnya.

Nikmat paling kecil di surga, rasanya sudah menjadi nikmat paling besar di dunia. Karena itu, kita wajib berharap kelak bisa merasakannya.

"Nggih nek mboten angsal nikmat teng mriki (dunia), mugi saget diwales teng mriku (suargo)," kata Kiai.

Nikmat surga memang tak bisa dibayangkan. Seberapapun jauh ilmu yang dimiliki manusia, tak akan bisa menggambarkan hakikat surga.

Karena memang Allah SWT meniadakan wujud ilmu yang menggambarkan surga. Jadi memang tak ada ilmu untuk mengukurnya.

Semoga kita semua kelak bisa merasakan kejutan yang disebut sebagai; mata yang tak pernah memandang, telinga yang tak pernah mendengar dan hati yang tak pernah terbersit tersebut. Aamiin...

Sabtu, 02 Mei 2020

Delapan Pintu Surga dalam Kitab Mala Ainun Roat




Dari delapan pintu surga yang ada ini, mana yang paling berpotensi kita lewati? Hmm 

Dalam ngaji pasan Kitab Mala Ainun Roat pertemuan ketiga, Kiai Tsalis mulai mbalah isi kitab. Dalam isi bab pertama, Abwabul Jannah ---- pintu surga, dijelaskan ada sebanyak 8 pintu.

Delapan pintu surga terdiri dari; pintu puasa, pintu sholat dhuha, pintu sholat (wajib dan sunnah), pintu jihad (berjuang dalam hal pemikiran/pencari ilmu), pintu amal ibadah (memberi makan orang mukmin), pintu sodaqoh (ahli sedekah), pintu nafkah (menafkahi istri dengan harta yang baik), dan pintu wudhu (sering punya wudhu).

Seseorang, kelak akan masuk surga melewati pintu sesuai amal yang paling sering dikerjakan semasa hidup di dunia. Jika seseorang sering punya wudhu, misalnya, kelak akan dipanggil lewat pintu wudhu.

Dalam bab pintu surga, dijelaskan pula ada seseorang yang kelak, di alam akhirat, dipanggil melalui delapan pintu sekaligus. Seseorang seperti apakah yang termasuk dalam golongan tersebut?

Yang termasuk dalam golongan tersebut adalah mereka yang memiliki 3 anak yang wafat sebelum usia baligh. Dan mereka mengikhlaskannya.

Selain itu, mereka yang selalu menyempurnakan wudhu. Dan setelah berwudhu, membaca أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله

Berikutnya, seorang perempuan yang menjalankan sholat wajib, puasa Ramadhan, menjaga farji (kemaluan) dan manut pada suami. Mereka akan dipanggil 8 pintu surga sekaligus.

Dengan adanya 8 pintu surga tersebut, pada bagian pintu manakah yang kira-kira kita berpotensi melewatinya?






Mukadimah Kitab: Santri Ojo Magak!


Dadi santri ojo magak. Maksudnya, jadi santri jangan setengah-setengah. Tapi total. 

Dalam ngaji pasan kitab Mala Ainun Roat pertemuan kedua, Kiai Tsalis membacakan mukadimah kitab. Beliau berkata bahwa kitab Mala Ainun Roat sesungguhnya adalah risalah (berbentuk pesan) yang lebih tipis dibandingkan kitab.

Risalah berbeda dengan kitab. Risalah lebih tipis dibandingkan kitab. Dulu, perbedaan itu sangat ketara. Sebab zaman dulu masih banyak ulama yang mengarang kitab.

Karena sekarang sudah jarang, antara risalah dan kitab sudah tidak terlalu berbeda. Saat ini, risalah seperti Mala Ainun Roat sudah seperti kitab. Mengingat, cakup pembahasan di dalamnya juga banyak.

Mala Ainun Roat, di dalamnya terdapat banyak hadis tentang surga. Dijelaskan pula di dalam mukadimah, beliau Sayyid Muhammad meniru gaya tulis Ibnu Qayyim Al Jauzi.

Dalam penulisan Mala Ainun Roat ini, Abuya Sayyid Muhammad dibantu oleh salah seorang santri asal Indonesia. Tepatnya asal Tuban, bernama Sholahuddin. Nah, Gus Sholah inilah yang membantu Abuya men-takhrij hadis di dalam kitab.

Dalam pembahasan mukadimah, Kiai Tsalis mengatakan jika kelak, di surga, orang akan dikumpulkan dengan yang disukai. Karena itu, para santri harus menyukai sosok yang layak disukai. Layak dicontoh perilaku dan perbuatannya.

Selain itu, pada pertemuan ini, Kiai Tsalis berpesan pada para santri agar malu berbuat maksiat. Sebab sikap malu inilah, yang saat ini banyak terkikis. Banyak orang mengumbar kemaksiatan. Dan itu harus dihindari.

Berbuat maksiat, menurut Kiai Tsalis, jangan dilihat ukuran besar kecilnya. Tapi dilihat bermaksiat pada siapa? Jika bermaksiat pada Allah, jangan dilakukan. Dan benar, bukankah setiap kemaksiatan selalu berhubungan dengan Allah? Karena itu, jangan bermaksiat.

"Santri ojo magak, dadi santri niku ojo magak." Begitu ucap Kiai Tsalis.



Ngaji Mala Ainun Roat Pertemuan Pertama: Pentingnya Mutolaah


Pada Ramadhan tahun 2020 ini, Khodimul Markaz kompak menginisiasi adanya kajian kitab di pondok. Sehingga meski dalam suasana pandemi, tetap ada yang disinauni. 

Para Khodimul Markaz Ridwan Romly Al Maliki menginisiasi ngaji pasan 2020 ini dengan pembahasan kitab Mala Ainun Roat karya Abuya Sayid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani yang diampu langsung oleh pengasuh pondok, KH. Tsalis Dhuha Ridwan.

Ngaji kitab Mala Ainun Roat pertama dibuka pada tanggal 27 Apri 2020, dan dilaksanakan setelah terawih.

Sebelum mbalah kitab, Kiai Tsalis bercerita tentang pengalaman beliau saat nyantri di Makkah, di bawah asuhan Abuya Sayyid Abbas Al Maliki Al Hasani --- yang notabene adik dari Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani.

Kiai Tsalis banyak bercerita tentang Abuya Sayyid Abbas. Mengingat, beliau pernah nyantri secara langsung pada Abuya Sayyid Abbas. Bahkan Kiai Tsalis pernah diajak masuk ke kamar pribadi beliau.

Kata Kiai Tsalis, pesan Abuya yang selalu beliau ingat adalah pentingnya mutolaah (sinau). Para santri harus mutolaah dengan berpegang kitab. Hal ini penting agar tidak kepeleset lidah.

Mutolaah harus berpegang kitab. Ngaji harus pakai kitab. Berpegang kitab.  Menurut Kiai Tsalis, mutolaah berpegang kitab adalah metode Abuya Sayyid Abbas yang selalu dipesankan pada para santri.

Karena itu, saat di pertemuan pembukaan ngaji pasan ini, Kiai Tsalis menyampaikan estafet pesan itu pada para Khodimul Markaz yang juga para santri Ponpes Ar-Ridwan.

Kiai Tsalis berkisah tentang kenangan bersama Abuya Sayyid Abbas. Tentang betapa bijak beliau mengajar ilmu pada para santrinya. Bahkan, Kiai Tsalis mengatakan, beliau tak pernah berani memandang wajah Abuya, karena saking takdzimnya beliau pada Abuya.

Yang menarik, Kiai Tsalis juga bercerita bahwa sebelum boyong ke rumah, beliau minta diakadkan Abuya saat menikah. Ya, yang mengakadkan pernikahan Kiai Tsalis dengan istrinya adalah Abuya Sayyid Abbas.

Kiai Tsalis merupakan santri asal Indonesia yang termasuk pelopor santri yang nekat minta diakadkan Abuya Sayyid Abbas ketika mau menikah. Sebab sebelumnya, belum pernah ada.

Ngaji kitab Mala Ainun Roat yang dilaksanakan setelah sholat tarawih ini, bercerita tentang seluk beluk surga yang keindahannya bahkan luput dari bayangan pandangan mata.