Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Mei 2020

Kelahiran Ponpes Markaz Ridwan Romly Al Maliky dan SMP Plus Ar-Ridwan Bojonegoro



Akhir Desember 2015, KH Tsalis Duha Ridwan pulang ke rumah. Dan dua tahun sebelum itu, tepatnya pada 2013, di rumah sudah mulai persiapan pembangunan infrastruktur pondok pesantren.

Keinginan dan cita-cita Abi Khusairi untuk memiliki pondok pesantren, akhirnya diijabahi Allah SWT. Meski, keinginan itu, terlaksana setelah beliau berusia senja. Namun, anak-anaknya melanjutkan estafet Abi Khusairi di dunia pendidikan agama.

Abi Khusairi memiliki 7 orang anak. 6 putra dan 1 putri. Semua putra-putrinya, mengenyam pendidikan agama. Meski ada pula yang mengenyam sekolah hingga kuliah umum; tapi setidaknya, semua pernah dipondokkan.

KH. Tsalis Duha Ridwan, putra ketiga dari Abi Khusairi, memang paling intens bergelut di pondok pesantren. KH. Tsalis pernah mondok di Lamongan, Malang, hingga Makkah. Beliau menghabiskan banyak umur di pondok pesantren.

Beliau mengenyam pendidikan di Makkah sejak 2004 hingga 2015.

Sesaat sebelum menyelesaikan pendidikan di Makkah, tepatnya pada 2013, Abi Khusairi sudah ancang-ancang membuatkan pondok pesantren untuk sang putra. Baik menyiapkan ruangan di belakang rumah, maupun mencicil pembangunannya.

Persiapan berupa mencicil bangunan ruang belajar, dilakukan secara perlahan. Santri belum ada, yang penting pondok pesantren sudah ada dulu. Sehingga, saat KH. Tsalis Duha pulang, sudah ada tempat untuk mengabdi.

Pada akhir Desember 2015, KH Tsalis Duha Ridwan pulang ke rumah. Dan dua tahun sebelum itu, tepatnya pada 2013, di rumah sudah mulai persiapan membangun infrastruktur pondok pesantren.

Saat KH. Tsalis Duha Ridwan sudah taneg di rumah, tepatnya pada 2016, infrastruktur pondok pesantren sudah ada. Namun, KH. Tsalis Duha belum memulai apa-apa. Oleh Abi Khusairi, beliau didukung dan dimotivasi untuk membuat pengajian. Lebih tepatnya, ngaji mingguan yang diikuti masyarakat setempat.

Niat Abi Khusairi belajar agama dan membikin pondok pesantren memang sangat keukeuh. Bahkan, tak sungkan beliau ikut ngaji pada putranya sendiri yang baru pulang dari Makkah (KH. Tsalis Duha Ridwan)

Selain membikin pengajian mingguan, KH. Tsalis juga membuat pondok Ramadhan. Beliau mulai serius melakukan sosialisasi keberadaan pondok pesantren dan mempersiapkan keberadaan sekolah (SMP) pada 2016.

Waktu itu, pondok pesantren beraktivitas lebih dulu daripada sekolah. Saat pertamakali buka, SMP Plus Ar- Ridwan hanya memiliki 10 santri. Itu pun hanya tersisa 5 santri saja.

Di tiga tahun pertama pondok pesantren Ar-Ridwan berdiri, tepatnya pada 2019, jumlah santri mencapai 80 santri putra dan putri. Santri-santri tersebut tidak hanya berasal dari Bojonegoro. Melainkan juga kota-kota sekitar.

Dan dari sinilah, perjuangan dan pergerakan Markaz Ridwan Romly Al Maliky dimulai.

H. Muhammad Khusairi Ridwan, Pendiri Ponpes Markaz Ridwan Romly Al Maliky Bojonegoro



Keberadaan Pondok Pesantren Markaz Ridwan Romly Al Maliki adalah cita-cita dan keinginan H. Muhammad Khusairi Ridwan (Abi Khusairi).  

Keberadaan pondok pesantren Markaz Ridwan Romly Al Maliky dan SMP Plus Ar Ridwan Bojonegoro tak bisa dilepaskan dari sosok almarhum H. Muhammad Khusairi Ridwan. Bahkan, yayasan tersebut merupakan mimpi dan cita-cita beliau.

Lahir pada April 1954,  H. Muhammad Khusairi Ridwan (Abi Khusairi) sudah sangat dekat dan identik dengan dunia pendidikan dan kegiatan keagamaan. Abi Khusairi merupakan putra pertama dari H. Ali Khasbi dan Hj. Suminah. Putra daerah Sukorejo Bojonegoro.

Sejak usia muda, Abi Khusairi sudah sangat akrab dengan berbagai kegiatan keagamaan. Beliau juga sosok pembelajar yang tak pernah berhenti belajar.

Dalam hal ilmu agama, Abi Khusairi berguru secara langsung pada Kiai Thalhah, tokoh agama sekaligus pendiri masjid Al Muchlisin di Jalan Monginsidi Bojonegoro. Kiai Thalhah merupakan kakek kandung dari Abi Khusairi.

Sebagai guru sekaligus kakek, Kiai Thalhah sangat mendorong Abi Khusairi untuk bergerak di bidang pendidikan. Hal itu pula yang pada akhirnya membawa Abi Khusairi, dari usia muda hingga akhir hayatnya, bergelut di bidang pendidikan.

Kiprah Abi Khusairi di Pendidikan Agama Bojonegoro 

Sejak usia muda, Abi Khusairi memang hidup sebagai pengusaha. Bahkan, tergolong pengusaha kayu dan mebel sukses. Namun, beliau juga peduli dan aktif berorganisasi. Terlebih, organisasi pendidikan agama.

Abi Khusairi aktif berjuang di Nahdlatul Ulama. Beliau tercatat sebagai salah satu inisiator dan pendiri IPPNU Bojonegoro. Selain itu, beliau juga aktif berorganisasi di Ansor dan NU ranting.

Abi Khusairi ditunjuk langsung oleh Rois Syuriah NU saat itu, H. Ali Syafi'i untuk menjadi pengurus MINU. Dengan dukungan penuh dari istrinya, Umi Hajah Sulayana, Abi Khusairi mampu mengelola MINU Bojonegoro hingga 20 tahun lebih.

Di tangan beliau, MINU Bojonegoro yang awalnya hampir punah, kian stabil, berkembang hingga memiliki banyak cabang. Tercatat, kini MINU memiliki 3 cabang (MINU Unggulan, MINU ICP dan MINU Karakter).

Abi Khusairi memang pengusaha. Namun, untuk urusan pendidikan agama, beliau tak mau tanggung-tanggung. Dengan ketekunan, harta, dan tenaga, Abi mampu menjadikan MINU yang awalnya kecil, hingga besar seperti saat ini.

Dalam urusan pendidikan agama, Abi Khusairi sangat total dan istiqamah. Sebagai pengurus MINU, Abi Khusairi amat telaten mengawal dan mengurus lembaga pendidikan tersebut.

Abi Khusairi pernah mengenyam pendidikan formal di PGA Ma'arif lalu pindah ke SMEA. Meski begitu, pendidikan agama seolah sudah jadi DNA dan cita-cita beliau. Bahkan, Abi Khusairi merupakan salah satu tokoh yang membidani lahirnya Yayasan Unsuri Bojonegoro. 

Kelahiran dan keberadaan Pondok Pesantren Markaz Ridwan Romly Al Maliki adalah cita-cita dan keinginan beliau. Tanpa H. Muhammad Khusairi Ridwan, Ponpes Markaz Ridwan Romly Al Maliki mungkin tak pernah ada.