Rabu, 18 November 2020

Kelebihan dan Keunikan Ponpes Ar-Ridwan Al-Maliky

 

Meski tergolong masih baru, Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky memiliki sejumlah kelebihan dan keunikan. Baik dari segi letak geografis, maupun konsep keseimbangannya.

Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky Bojonegoro berada di tengah-tengah kota. Tapi suasana yang tersaji, seperti di desa. Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky terasa seperti di desa. Tapi hakikatnya, berada di pusat kota. Hmm.. gimana itu ya?

Sans, Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky berlokasi di Jalan Singoranu nomor 4 Kota Bojonegoro. Lokasi tersebut, tepatnya berada di Desa Sukorejo, Kecamatan Kota. Desa Sukorejo berada di dalam Kota Bojonegoro. Desa di dalam kota.

Kondisi ini, tentu sangat menarik. Sebab, berada di dalam kota. Artinya, akses sangat mudah. Sementara lokasi yang terasa mirip di desa, menunjukkan betapa suasana belajar di Ponpes Ar-Ridwan sangat asri dan kondusif.

Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky, sejak awal berdiri, memang fokus pada program unggulan Tahfidzul Qur'an. Namun, Ponpes Ar-Ridwan juga dilengkapi dengan program pendidikan Diniyah Salafiyah dan pendidikan umum.

Secara konsep Diniyah, Ponpes Ar-Ridwan menganut methode pendidikan Abuya Sayyid Abbas Al Maliky, Makkah. Sementara secara konsep pendidikan umum, Ponpes Ar-Ridwan mengacu gaya Finlandia. Yakni pendidikan berbasis kebahagiaan.

Tak heran, banyak santri-santri Ar-Ridwan Al Maliky yang justru berasal dari luar Kota Bojonegoro. Ini karena atmosfer dan ekosistem belajar yang terbangun di Ar-Ridwan Al Maliky sangat menyenangkan dan berorientasi pada kebahagiaan.

Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky dan Konsep Keseimbangan

Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky hadir dengan konsep keseimbangan. Baik seimbang dalam sudut pandang letak geografis, maupun seimbang dalam paradigma konsep identitas.

Secara geografis, dulu ada yang bilang bahwa di dalam Kota Bojonegoro, hanya ada dua Pondok Pesantren. Yakni Ponpes Ar-Rahmat dan Al-Fatimah. Nah, kehadiran Ponpes Ar-Ridwan, tentu menyeimbangkan posisi geografis keduanya.

Jika dilihat dari gmaps, Ponpes Ar-Rahmat berada di sisi barat Kota Bojonegoro. Sementara Ponpes Al-Fatimah berada di sisi timur Kota Bojonegoro. Nah, Ponpes Ar-Ridwan ini, lokasinya berada di tengah-tengah antara dua ponpes tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa secara letak geografis, Ponpes Ar-Ridwan memang berada di tengah-tengah antara Ponpes Ar-Rahmat dan Ponpes Al-Fatimah.

Sementara secara konsep identitas, Ar-Rahmat identik sebagai ponpes laki-laki yang ada di Kota Bojonegoro. Sementara Al-Fatimah identik sebagai ponpes perempuan yang ada di Kota Bojonegoro.

Nah, Ponpes Ar-Ridwan menyeimbangkan secara identitas. Sebab, di Ar-Ridwan, ada santri putra sekaligus santri putri. Meski, tentu saja, letaknya terpisah.

Hal ini menunjukan bahwa secara konsep identitas, Ponpes Ar-Ridwan berada di tengah-tengah dan jadi penyeimbang antara Ponpes Ar-Rahmat dan Al-Fatimah.

Ya, Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky memang unik. Sebab, ia menyeimbangkan dan melengkapi yang sudah-sudah. Baik dalam sisi letak geografis, maupun dalam konsep identitas.

Dalam khasanah psikologi, setiap orang memiliki kecenderungan bergerak menuju keseimbangan psikologis. Atau dalam istilah lain, mata akan cenderung memperhatikan titik tengah daripada yang pinggir.

Artinya, jangan heran jika kelak, Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky akan menjadi Ponpes besar dan sangat maju. Sebab, selain menyeimbangkan, ia juga lebih menarik perhatian.



Minggu, 15 November 2020

Khidmah, Kabar Gembira, dan Rahasia Besar di Baliknya




Berkhidmah adalah episode hidup yang patut disyukuri. Sebab, khidmah hari ini adalah penerang jalan, kelak di kemudian hari. 

Diberi kesempatan berkhidmah adalah anugerah yang amat luar biasa. Apalagi, yang dikhidmahi adalah lembaga yang berurusan dengan agama Allah SWT. Tentu hanya orang-orang terpilih yang bisa melakukannya. 

‌Khidmah berasal dari kata khodim yang menurut bahasa, artinya: melayani atau membantu. Sementara khidmah menurut tradisi pesantren, adalah membantu kiai atau lembaga pendidikan dengan sepenuh hati, disertai kesabaran dan keikhlasan. 

Sebab bisa jadi, ridho Allah pada kita justru dilewatkan dari jalur Khidmah, bukan jalur yang lain. Dengan kita berkhidmah, misalnya, Allah jadi ridho terhadap apa yang kita lakukan selama menghabiskan usia di dunia ini.  

Khidmah memang semata-mata mencari ridho Allah dan kiai. Bukan mencari ridho pemerintah, apalagi mencari ridho orang lain dalam bentuk sertifikat dan pujian. Kalaupun iya, itu sekadar bonus kecil belaka. Bonus besarnya nanti di kemudian hari. 

Khidmah adalah cara orang-orang alim terdahulu dalam menjalani hidup di dunia. Para ulama terdahulu, di usia mudanya, selalu berkhidmah. Banyak sekali nama kiai dan ulama yang berkhidmah di usia muda. 

Bahkan, ada sebuah pepatah: Batas usia kreatif seseorang adalah 40 tahun. Hendaknya sebelum usia itu, seseorang mempergunakan usianya untuk berkhidmah (mengabdi) terlebih dahulu. 

Kanjeng Nabi Muhammad Saw pun begitu. Kanjeng Nabi, dulu berkhidmah pada Ummul Mukminin Siti Khodijah dengan menjadi rekan bisnisnya, sebelum akhirnya diangkat menjadi Rasul di usia 40 tahun. 

Sehingga wajar jika berkhidmah sesungguhnya lebih mulia daripada kerja di Bank atau jadi PNS. Sebab khidmah, dalam konsep lain merupakan investasi --- sesuatu yang saat ini terasa biasa-biasa saja, namun kelak di kemudian hari, memicu rasa syukur yang amat luar biasa. 

Khidmah akan selalu diikuti bisyaroh. Ingat: bisyaroh, secara harfiah, artinya Kabar Gembira. Ini penting untuk diketahui, bahwa bisyaroh bukan semata gaji apalagi insentif. Dalam ungkapan lain, Khidmah yang ikhlas akan selalu diikuti kabar gembira di belakangnya. 

Bisa jadi, kabar gembira itu berupa kenikmatan-kenikmatan pemicu rasa syukur seperti datangnya kemudahan, penjagaan atas kesehatan, munculnya rizki, hingga hadirnya jodoh kelak di kemudian hari. 

Berkhidmah memang tak pernah mudah. Kadang membikin hati risau dan gelisah. Tapi, apa arti risau dan gelisah jika kelak di kemudian hari, Allah SWT telah mempersiapkan kabar gembira untuk kita? 

Berkhidmah adalah episode hidup yang patut disyukuri. Sebab, hanya orang-orang pilihan yang ditakdir bisa berkhidmah. Dan betapa bersyukurnya, jika orang-orang pilihan itu adalah kita.

Sabtu, 14 November 2020

Gelak Haru Hari Guru dan Hari Pahlawan di Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky



Sebuah momen ketika menahan jatuhnya air mata lebih sulit dibanding menahan jatuhnya air hujan. Saat hujan turun, kita bisa berteduh. Tapi saat air mata yang turun, ia pasti akan dlewar-dlewer begitu saja. 

Santri dan pengurus Ponpes Ar-Ridwan Al Maliky peringati Hari Pahlawan dan Hari Guru Nasional di aula Masjid Sayyid Abbas pada (14/10/2020). Dalam peringatan tersebut, santri memberikan persembahan pada pengasuh dan asatidz sebagai simbol rasa takdhim. 

Dalam acara yang dimulai sejak pukul 08.00 pagi tersebut, bermacam penampilan seni dari perwakilan kelas 7, kelas 8, hingga kelas 9 mampu membetot rasa haru dalam hati para penonton, termasuk pengurus dan para pengajar. 

Guru memang pahlawan. Karena itu, benar adanya jika peringatannya dijadikan satu dengan Hari Pahlawan. Dan wajar jika dalam acara tersebut, keharuan mendominasi suasana. 

Rasa haru tak segera usai, karena pasca acara pentas ditutup, kegiatan pemotongan tumpeng dan ramah tamah justru kian memperkuat keharuan. Sementara lagu Man Ana terus mengalun mendramatisir melankoli suasana. 

Tetes-tetes air mata haru terlihat menggenang di mana-mana. Ada yang mengucur di pipi para santri, tersembunyi di balik baju, hingga tergenang di dalam hati pengasuh dan ustad-ustadzah. 

Dalam momen tersebut, menahan jatuhnya air mata memang lebih sulit dibanding menahan jatuhnya air hujan. Saat hujan tiba, kita bisa berteduh. Tapi saat air mata yang tiba, tak ada peneduh yang mampu memayunginya, kecuali pipi kita masing-masing. 

Hanya mereka yang berhati lembut yang mudah tersentuh hatinya. Dan saat acara peringatan Hari Guru dan Hari Pahlawan ini, semua hadirin hatinya menjadi lembut. Penuh pemakluman dan penuh kasih sayang. 

Peringatan Hari Guru dan Hari Pahlawan di Ponpes Ar-Ridwan Al Maliki tak hanya menunjukan betapa guru memang seorang pahlawan. Lebih dari itu, semua ini menunjukan bahwa rasa takdhim pada guru dan kasih sayang pada santri adalah inti dari pendidikan.

Selasa, 10 November 2020

Peran Santri di Balik Hari Pahlawan




Kemenangan 10 November adalah bukti betapa besar peran Kiai dan para santri. Sebab karena merekalah, Hari Pahlawan hadir di muka bumi. 

Tak akan pernah ada 10 November tanpa gelombang 22 Oktober. Tak akan pernah ada Hari Pahlawan, tanpa Resolusi Jihad santri dan ulama yang digemakan KH. Hasyim Asy'ari. 

10 November bisa pecah dan bergema karena ada padatan-padatan semangat yang dihimpun para Kiai sejak 22 Oktober. Dan di sinilah, peran Kiai dan santri sangat menentukan kemenangan pada momen 10 November. 

Jauh-jauh hari sebelum meletus perang 10 November di Surabaya, Resolusi Jihad yang digemakan KH Hasyim Asy'ari benar-benar mampu membangkitkan patriotisme para santri, kiai dan akhirnya masyarakat umum. 

Selain Syaikhona Hasyim Asy'ari, sesungguhnya ada dua nama Kiai lain yang amat berperan dalam perang 10 November. Beliau berdua adalah KH. Abdullah Abbas Buntet Cirebon dan KH. As'ad Syamsul Arifin Situbondo. 

Sebenarnya ada banyak daftar nama Kiai yang berperan besar. Namun, Mbah Abbas dan Mbah As'ad adalah sosok konseptor. Beliau yang menghimpun sekaligus menggerakkan spirit dan gelombang heroisme masyarakat dan para santri, dari dua arah mata angin. 

Mbah Abbas dari sisi barat Surabaya dan Mbah As'ad dari sisi timur Surabaya. Dari dua kutub itu, energi para santri bergerak menuju Surabaya, menuju kemenangan yang kelak kita kenang sebagai Hari Pahlawan. 

Selain itu, Mbah Abbas dan Mbah As'ad memang masyhur sebagai sosok digdaya. Mbah Abbas terutama, sangat masyhur memiliki pemahaman ilmu fiqih beserta bermacam kedigdayaan olah fisik dan olah batin. Mbah Abbas adalah sosok Kiai keramat. 

Maka tak heran jika Sekutu, dalam hal ini Inggris, kalang kabut kala melawan para santri dan jihadis di Surabaya. Bahkan, perang 10 November jadi momen pertama Inggris kehilangan jendral besarnya di dalam sebuah peperangan. 

Inggris lupa bahwa yang dihadapi mereka bukan sekadar tentara. Tapi tentara langit. Kiai dan santri adalah sosok-sosok yang mampu menghadirkan pertolongan samawi melalui doa dan sholawat. 

Perang dan kemenangan 10 November adalah bukti betapa doa dan safaat Kanjeng Nabi Muhammad Saw begitu dekat pada permohonan kita. Pada permohonan Kiai dan santri. 

10 November ini, harusnya tak sekadar diperingati sebagai Hari Pahlawan. Tapi juga diperingati sebagai hari betapa besar peran Kiai dan para santri. Sebab karena merekalah kemenangan 10 November hadir di muka bumi. 

Berbanggalah wahai para santri di manapun kamu berada. Sebab para santri ada di tiap sulur-sulur semangat Hari Pahlawan. Kamu ada di tiap nadi semangat hari kemenangan. 

Ya, kamu (yang membaca tulisan ini), adalah pahlawan. Setidaknya bagi orang terdekat dan dirimu sendiri. 


Sabtu, 03 Oktober 2020

Berkirim Doa pada 1000 Hari Wafatnya Abina





Dalam rangka 1000 hari wafatnya Abina H. Muhammad Khusairi Ridwan, pengasuh, pengurus beserta para santri mengadakan khataman Quran beserta tahlil yang dipimpin langsung pengasuh. 

Tahlil dan berkirim doa adalah satu-satunya cara membahagiakan mereka yang telah tiada. Sekaligus satu-satunya cara menyambung cinta dan menuai rindu, meski tak lagi bisa bertemu. 

Abina Khusairi Ridwan merupakan pendiri Markaz Ridwan Romly Al Maliki. Beliau wafat 3 tahun silam. Karena itu, demi agar Khidmah kita pada pendiri, peringatan haul beliau selalu diadakan dan disemarakkan dengan bermacam kegiatan Al-Qur'an.

Abina sosok yang sangat berpengaruh bagi keberadaan Markaz Ridwan Romly Al Maliki. Karena itu, sudah kewajiban para santri, pengurus, dan pengasuh untuk berkirim dia dan meneladani perjuangan Abina. 

Begitu besar kebahagiaan ahli kubur, saat anak keturunan dan handai taulan berkumpul, lalu bersama-sama mengirim doa dan mengingat kebaikan-kebaikannya. 

Mengirim doa pada orang tua yang telah wafat, adalah kewajiban bagi kita semua. Sebab, hanya dengan itu, kita bisa membahagiakan beliau. Toh, tak ada yang diharapkan ahli kubur, selain doa dari kita yang masih hidup. 

Semoga kita semua, keluarga besar Markaz Ridwan Romly Al Maliki, bisa meneladani tauladan baik Abina H. Muhammad Khusairi Ridwan, sekaligus selalu memegang wasiat beliau untuk terus berkhidmah pada kebaikan. 



Minggu, 13 September 2020

Saat Para Santri Dijenguk Kerinduan




Rindu, waktu, dan apa saja yang memicu hadirnya jarak, memang kalau dirasakan tidak enak. Karena itu, pertemuan adalah momen paling menyenangkan, terlepas bagaimanapun kondisinya. 

Hari Ahad jadi waktu yang ditunggu-tunggu para santri Markaz Ridwan Romly Al Maliki. Sebab, di hari itu, anugerah berupa sambangan orang tua biasanya dihadirkan. Meski cara sambangnya tak seperti biasanya, setidaknya sambangan tetap membahagiakan.

Sejak masa pandemi, pengurus Markaz Ridwan Romly Al Maliki mengharuskan para santri untuk patuh pada protokol covid yang ditetapkan pemerintah. Selain pakai masker, jaga jarak menjadi perihal yang harus ditepati. 

Saat wali santri sambang, misalnya, mereka tak boleh bertemu secar dekat dan langsung. Tapi harus melalui hijab berupa papan plastik yang menengahinya. Ini demi tetap menaati aturan protokol covid. 

Memang terasa menyedihkan dan mengharukan. Tapi, bagaimanapun, ini yang terbaik demi agar potensi persebaran virus bisa ditekan. Toh para santri masih tetap bisa menuai rindu pada orang tua, melalui bilik kaca.  

Semoga virus Corona segera dicabut Allah SWT, dan keadaan bisa kembali normal seperti biasa. Sehingga, proses sambangan orang tua bisa kembali seperti sediakala. 

Tapi bagaimanapun, pertemuan adalah momen paling menyenangkan, terlepas bagaimanapun cara dan kondisinya. 


 

Kamis, 03 September 2020

Karomah Abuya Sayyid Muhammad Berjumpa Kanjeng Nabi secara Langsung


Ketinggian maqam (kedudukan) Sayyid Muhammad Al-Maliki (Abuya) sebagai seorang Waliyullah, dikenal masyhur di dunia pesantren dan para penggemar ziarah ulama (Syarkubiyah).

Sayyid Muhammad Al-Maliki mencapai maqam bertemu Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (Saw) secara yaqadhah (terjaga, bukan mimpi), sebagaimana diketahui beberapa santrinya.

Dalam buku Al-Ijaz fi Karomati Ahli Al-Hijaz karya Al Habib Mustofa bin Husain Al-Jufri diterangkan bahwa salah seorang santri beliau mendapat tugas melayani kebutuhan Abuya.  Antara lain sarapan pagi yang biasanya berupa telor goreng mata sapi, roti, keju, dan susu segar.

Di antara kamar pribadi Abuya yang sekaligus berfungsi kantor dan dengan dapur pribadi, hanya dibatasi sebuah lorong kecil. Artinya, setiap orang yang berada di dapur, lantas akan masuk ke kamar Abuya, pasti melintasi lorong kecil tersebut.

Waktu itu, sang santri ingin mengantar sarapan Abuya. Saat di tangan santri  sudah tersedia talam berisi peralatan dan menu sarapan Abuya, dan si santri sudah berada di lorong kecil, tiba-tiba teman seniornya mencegah langkahnya, agar tidak masuk ke kamar Abuya terlebih dahulu, namun diminta untuk ikut mendengar secara seksama.

Dengan penuh penasaran, santri pembawa sarapan tadi ikut memperhatikan ajakan teman seniornya tersebut, ternyata terdengar suara tangis lirih namun cukup jelas dari dalam kamar itu. Ya, Abuya terdengar sedang menangis. 

Karena itulah, mereka berdua tak berani masuk kamar sebelum dipanggil Abuya.  Selang sepuluh menit berikutnya, tiba-tiba Abuya memanggil dengan suara agak parau: “Aulaad, fieen futhuur..?” (Anak-anak, mana sarapannya).

Kemudian masuklah dua santri itu, dengan membawa barang yang menjadi tugasnya masing-masing. Setelah mereka berdua duduk di depan Abuya untuk menata menu sarapan dan keperluan lain, Abuya bertanya:

“Tahukah kalian apa yang baru saja aku alami?”

Sapah seorang santri menjawab: “Tidak tahu, wahai Abuya”.

Abuya pun bergegas berkata: “Wahai anak-anakku, baru saja aku ditemui oleh Rasulullah SAW secara langsung..!”.

Begitulah. Salah satu karomah Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki, adalah sering ditemui Kanjeng Nabi Muhammad secara langsung alias bukan melalui mimpi. 

Karena itu, banyak santri dan muhibin yang bermimpi Rasulullah, ternyata melihat sosok Rasulullah nyaris sama dengan sosok Sayyid Muhammad Al-Maliki.

Inilah bukti nyata adanya I’tina’ Khasshah (perhatian khusus) dari Rasulullah Muhammad SAW pada Abuya yang merupakan cucunya tersebut.

Disarikan dari buku Al-Ijaz fi Karomati Ahli Al-Hijaz.